Tokyo - Pelemahan yang terjadi di bursa Wall Street tidak berimbas ke bursa regional. Indeks saham di bursa-bursa Asia justru 'menghijau' dan mengabaikan sentimen negatif data pengangguran AS yang mengecewakan.
Bursa Wall Street ditutup melemah meski tipis setelah sempat terjerembab jauh akibat data pengangguran yang mengecewakan. Pada perdagangan Kamis (25/2/2010), indeks Dow Jones industrial average ditutup melemah tipis 53,13 poin (0,51%) ke level 10.321,03. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 2,30 poin (0,21%) ke level 1.102,94 dan Nasdaq melemah 1,68 poin (0,08%) ke level 2.234,22.
Pada perdagangan Jumat (26/2/2010), bursa-bursa Asia bergerak menguat meski tidak terlalu signifikan. Penguatan bursa-bursa Asia lebih lanjut tertahan oleh sentimen negatif ancaman penurunan peringkat Yunani.
Lembaga pemeringkat Moody's menyatakan perubahan peringkat Yunani akan tergantung bagaimana negara tersebut menyusun sebuah rencana reformasi fiskal. Sementara Standard & Poor's menyatakan akan menurunkan peringkat Yunani 1 atau 2 tingkat dalam sebulan ke depan. Jika hal itu benar-benar dilakukan, maka dikhawatirkan akan semakin meningkatkan biaya utang Yunani.
Pergerakan bursa-bursa Asia pada Jumat akhir pekan ini adalah:
Indeks Shanghai melemah tipis 8,68 poin (0,28%) ke level 3.051,94.
Indeks Hang Seng menguat 209,13 poin (1,03%) ke level 20.608,70.
Indeks Nikkei-225 menguat 24,07 poin (0,24%) ke level 10.126,03.
Indeks Straits Times menguat 1,71 poin (0,06%) ke level 2.750,86.
Indeks KOSPI naik tipis 7,07 poin (0,45%) ke level 1.594,58.
Indeks Sydney naik 43,6 poin (0,95%) ke level 4.637,7.
Bursa Efek Indonesia dan Kuala Lumpur libur memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Hanya Bursa Shanghai yang melemah akibat rontoknya saham-saham perbankan. Hal itu dipicu oleh kekhawatiran seputar masalah pengetatn kredit. Demikian pula saham-saham komoditas ikut melorot seiring turunnya harga komoditas.
Sedangkan bursa-bursa Eropa juga memulai perdagangan Jumat akhir pekan ini dengan penguatan yang cukup signifikan. Indeks DAX 30 naik 1,02%, CAC 40 naik 0,95%, FTSE 100 naik 1,03%.
by detik finance
ANM World Wide
Earth
Sabtu, 27 Februari 2010
BI Rate Masih Berpeluang Naik di Semester I-2010
Jakarta - Meski Bank Indonesia (BI) menyatakan tidak akan ada perubahan terhadap suku bunga acuan atau BI Rate hingga semester I 2010, sejumlah kalangan berpendapat justru BI Rate masih berpotensi untuk naik.
Menurut Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Tony Prasetyantono, faktor yang sangat mempengaruhi naiknya BI Rate tersebut potensi kenaikan inflasi dan melemahnya rupiah menuju pertengahan tahun 2010.
"BI rate sejauh ini memang tidak perlu diubah. Barulah nanti jika inflasi yoy menyentuh 4,5% atau 5%, BI rate perlu dinaikkan menjadi 6,75%. Jika hal ini diikuti dengan merosotnya kurs rupiah, barulah BI rate perlu dinaikkan menjadi 7,0%," katanya saat dihubungi detikFinance, Sabtu (27/2/2010).
Ia mengatakan, saat ini BI Rate masih akan diam di tempat, tidak naik maupun turun untuk sementara waktu. Jika diturunkan, tidak bisa dipastikan akan menurunkan suku bunga kredit di kalangan perbankan. Sementara jika dinaikkan, tidak ada alasan yang kuat.
Menurutnya, Indonesia sedang menikmati capital inflow, yang bisa dideteksi dari kenaikan IHSG dan cadangan devisa BI yang mencapai US$ 70 miliar. Rupiah juga sudah nyaman bertengger di level Rp 9.300-9.400. Ini level yang sesuai ekspektasi.
"Sedangkan inflasi yoy, yang sekarang 3,72% juga merupakan level yang sesuai ekspektasi," tambahnya.
Secara terpisah, Ekonom Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, ruang untuk menurunkan BI Rate sudah tidak ada lagi, kemungkinan yang ada hanya naik seiring dengan tekanan inflasi yang juga bergerak naik.
"Tapi BI Rate tidak naik saja untuk tahun ini sudah memberikan sinyal yang cukup baik bagi perekonomian kita," tambahnya.
sumber detik fin
Menurut Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Tony Prasetyantono, faktor yang sangat mempengaruhi naiknya BI Rate tersebut potensi kenaikan inflasi dan melemahnya rupiah menuju pertengahan tahun 2010.
"BI rate sejauh ini memang tidak perlu diubah. Barulah nanti jika inflasi yoy menyentuh 4,5% atau 5%, BI rate perlu dinaikkan menjadi 6,75%. Jika hal ini diikuti dengan merosotnya kurs rupiah, barulah BI rate perlu dinaikkan menjadi 7,0%," katanya saat dihubungi detikFinance, Sabtu (27/2/2010).
Ia mengatakan, saat ini BI Rate masih akan diam di tempat, tidak naik maupun turun untuk sementara waktu. Jika diturunkan, tidak bisa dipastikan akan menurunkan suku bunga kredit di kalangan perbankan. Sementara jika dinaikkan, tidak ada alasan yang kuat.
Menurutnya, Indonesia sedang menikmati capital inflow, yang bisa dideteksi dari kenaikan IHSG dan cadangan devisa BI yang mencapai US$ 70 miliar. Rupiah juga sudah nyaman bertengger di level Rp 9.300-9.400. Ini level yang sesuai ekspektasi.
"Sedangkan inflasi yoy, yang sekarang 3,72% juga merupakan level yang sesuai ekspektasi," tambahnya.
Secara terpisah, Ekonom Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, ruang untuk menurunkan BI Rate sudah tidak ada lagi, kemungkinan yang ada hanya naik seiring dengan tekanan inflasi yang juga bergerak naik.
"Tapi BI Rate tidak naik saja untuk tahun ini sudah memberikan sinyal yang cukup baik bagi perekonomian kita," tambahnya.
sumber detik fin
Langganan:
Postingan (Atom)