ANM World Wide

ANM World Wide
Earth

Kamis, 29 Oktober 2009

Panik Jual Mereda, IHSG Cuma Minus 11 Poin

Jakarta - Aksi panik jual di lantai bursa Indonesia mereda pada sesi-sesi akhir menjelang penutupan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun berhasil memperkecil pelemahannya.

Aksi panik jual dan dugaan forced sell sempat memaksa IHSG turun lebih dari 100 poin pada awal perdagangan. Namun memasuki sesi II, aksi jual mereda meski IHSG masih ditutup di teritori negatif.

Rebound saham-saham grup Bakrie dan saham unggulan lainnya membantu IHSG keluar dari jeratan kemerosotan.

Pada perdagangan Kamis (29/10/2009), IHSG akhirnya hanya ditutup melemah 11,281 poin (0,48%) ke level 2.344,033. IHSG sempat berada di posisi terendah di posisi 2.235,387 atau turun 119,297 (5,09%).

Pelemahan IHSG terjadi bersamaan dengan bursa regional yang hari ini juga masih memerah mengikuti kemerosotan Wall Street tadi malam. Indeks Nikkei-225 bahkan untuk pertama kalinya sejak 8 Oktober turun di bawah level 10.000.

  • Indeks Komposit Shanghai tercatat turun 70,86 poin (2,34%) ke level 2.960,47.
  • Indeks Hang Seng merosot 496,59 poin (2,28%) ke level 21.264,99.
  • Indeks Nikkei-225 merosot 183,95 poin (1,83%) ke level 9.891,10.
  • Indeks KOSPI turun 23,86 poin (1,48%) ke level 1.585,85.

"Sesi Wall Street berikutnya menjadi sangat penting. Para pialang menunggu untuk melihat bagaimana pasar AS akan bereaksi terhadap data PDB," uar Yumi Nishimura, analis dari Daiwa Securities SMBC seperti dikutip dari AFP.

Perdagangan berjalan cukup aktif, dengan frekuensi transaksi sebanyak 124.047 kali pada volume 7.278 juta lembar saham senilai Rp 6,299 triliun. Sebanyak 89 saham naik, 109 saham turun dan 58 saham stagnan.

Saham-saham yang masih berkutat di top loser antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.050 menjadi Rp 20.850, United Tractor (UNTR) naik Rp 450 menjadi Rp 14.750, BRI (BBRI) turun Rp 150 menjadi Rp 7.150, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) turun Rp 200 menjadi Rp 10.200, Telkom (TLKM) turun Rp 100 menjadi Rp 8.250.

Sedangkan saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain Bumi Resources (BUMI) naik Rp 75 menjadi Rp 2.475, Astra International (ASII) naik Rp 50 menjadi Rp 32.000, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 50 menjadi Rp 4.575, PTBA naik Rp 50 menjadi Rp 14.800.

Sumber detik finance

Rupiah Melemah, BI Berharap Pelaku Pasar Tidak Panik

Jakarta - Nilai tukar rupiah ikut merosot bersamaan dengan aksi jual hebat di pasar saham. Bank Indonesia berharap pelaku pasar tidak panik dan tetap bertransaksi seperti biasa.

Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono mengatakan, pelemahan rupiah pada hari ini berkaitan dengan jatuhnya harga saham di kawasan Asia akibat tekanan jual dipicu oleh kekhawatiran mulai berbaliknya arah kebijakan moneter di Asia (China, India).

"Hari ini ditambah pula dengan pasar melakukan sell-off saham di US merespons memburuknya indikator US new home sales. Ini berimbas ke Indonesia dengan aksi jual sehingga Rupiah melemah cukup tajam beberapa hari ini," jelas Hartadi kepada detikFinance.

Pada perdagangan Kamis (29/10/2009) siang, rupiah melemah ke 9.715 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.690 per dolar AS. Rupiah terus melemah sepanjang pekan ini akibat trend penguatan kembali dolar AS.

"BI akan terus memonitor perkembangan ini dan masuk pasar bila diperlukan dengan harapan pasar tidak panik dan bertransaksi orderly," tegas Hartadi.

Ia menambahkan, dengan pelemahan rupiah kali ini, BI tidak melihatnya sebagai akhir dari pelemahan dolar AS.

"Prospek ekonomi Indonesia cukup baik sehingga tetap membuka ruang penguatan rupiah," pungkas Hartadi.

Di pasar Asia hari ini, euro tercatat kembali melemah atas dolar AS. Investor masih melepas mata uang yang dinilai lebih berisiko.

Euro melemah hingga 1,4696 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4714 dolar. Namun dolar AS melemah atas yen ke posisi 90,55 yen, dibandingkan sebelumnya di 90,63 yen.

sumber detik finance

Tekanan Jual Mereda, IHSG Terpangkas 2,97%

Jakarta - Tekanan jual yang sempat menggila di awal perdagangan akhirnya mulai surut. Namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terseok-seok melemah tajam hingga penutupan sesi I.

Aksi jual hebat terjadi setelah Wall Street tadi malam merosot dan diikuti oleh bursa-bursa regional. Tak ada saham unggulan yang selamat dari aksi jual.

Pada perdagangan Kamis (29/10/2009) sesi I, IHSG akhirnya ditutup merosot 69,994 poin (2,97%) ke level 2.285,320. Indeks LQ 45 juga melemah 15,469 poin (3,35%) ke level 446,330. IHSG sempat merosot jauh 108,658 poin (4,71%) ke level 2.246,656. Rupiah juga ikut melemah ke 9.715 per dolar AS.

Kemerosotan yang tajam di awal perdagangan ini diduga tidak hanya sekedar kepanikan namun juga adanya aksi jual paksa atau forced sell.

"Sangat patut diduga kalau ini adalah forced sell. Dengan nilai transaksi tipis, namun penurunan sangat tajam, kelihatannya ini memang akibat forced sell," ujar Direktur Utama PT Finan Corpindo Nusa Edwin Sinaga saat dihubungi detikFinance.

Bursa-bursa regional juga merosot tajam mengikuti pelemahan Wall Street tadi malam.
  • Indeks Nikkei-225 melemah 195,68 poin (1,94%) ke level 9.879,37.
  • Indeks Hang Seng merosot 525,7 poin (2,42%) ke level 21.235,88.
  • Indeks Komposit Shanghai melemah 63,81 poin (2,10%) ke level 2.967,52.

Perdagangan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 63.679 kali pada volume 3.718,6 juta lembar saham senilai Rp 3,418 triliun. Sebanyak 17 saham naik, 191 saham turun dan 25 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Astra International (ASII) turun Rp 1.400 menjadi Rp 30.550, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.200 menjadi Rp 20.700, BRI (BBRI) turun Rp 200 menjadi Rp 7.100, PTBA turun Rp 200 menjadi Rp 14.550, BCA (BBCA) turun Rp 200 menjadi Rp 4.400, Telkom (TLKM) turun Rp 200 menjadi Rp 8.150.

Sedangkan saham-saham yang masih mampu mencetak kenaikan harga di top gainer antara lain Bank Himpunan Saudara 1906 (SDRA) naik Rp 5 menjadi Rp 345, Bumi Serpong Damai (BSDE) naik Rp 10 menjadi Rp 690, Sampoerna Agro (SGRO) naik Rp 25 menadi Rp 2.175, Tunas Ridean (TURI) naik Rp 10 menjadi Rp 1.490.

sumber detik finance
मंताप दी कवासन kuningan

Kepanikan Pasar Atau Forced Sell Massal?

Jakarta - Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I hari ini yang sempat menembus 5% ke level 2.235,387 diduga bukan sekedar akibat kepanikan pasar. Aksi jual paksa (forced sell) diduga menjadi penyebab utamanya.

"Sangat patut diduga kalau ini adalah forced sell," ujar Direktur Utama PT Finan Corpindo Nusa Edwin Sinaga saat dihubungi detikFinance, Kamis (29/10/2009).

IHSG jatuh cukup dalam dengan nilai transaksi tipis. Ketika penurunannya mencapai 5% sesaat setelah dibuka, nilai transaksi hanya sebesar Rp 1 triliun.

"Dengan nilai transaksi tipis, namun penurunan sangat tajam, kelihatannya ini memang akibat forced sell," ujarnya.

Transaksi investor asing juga tidak banyak. Penjualan asing hanya sebesar Rp 395,277 miliar, aksi beli asing hanya sebesar Rp 287,709 miliar. Artinya, aksi penjualan masif hari ini diakibatkan oleh aksi jual yang dilakukan oleh investor lokal.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah ini benar-benar keputusan yang memang diambil investor? Menurut Edwin, aksi jual pelaku pasar hampir tidak mungkin menjadi sepanik ini dalam waktu singkat.

"Kalau kepanikan pasar kelihatannya tidak mungkin sesingkat ini. Memang ada sentimen negatif di pasar, itu terlihat dari tipisnya posisi beli. Kelihatannya karena tipisnya posisi beli itu, penurunan menjadi tajam akibat forced sell dalam waktu bersamaan," jelas Edwin.

Kendati demikian, Edwin belum dapat memastikan apakah aksi jual masif dalam waktu singkat dengan volume tipis ini merupakan aksi forced sell. "Kita belum punya datanya, yang punya datanya tentu pihak bursa. Tapi memang patut diduga kalau ini forced sell," ujarnya.

Sementara Direktur Perdagangan Saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Wan Wei Yiong belum berani mengambil kesimpulan adanya aksi forced sell pada perdagangan pagi ini.

"Kita belum melakukan pengecekan, tapi akan kita pantau terus," ujarnya.

Forced sell merupakan hak jual yang dimiliki sekuritas terhadap nasabah-nasabahnya yang melakukan pembelian saham dengan dana pinjaman dari sekuritas. Fasilitas ini memiliki batasan rasio harga saham yang disebut sebagai Margin Call.

Jika batas ini tersentuh akibat penurunan tajam selama beberapa hari, nasabah akan diminta untuk melakukan penambahan dana (top up) terhadap utang-utangnya kepada sekuritas. Jika nasabah tidak bisa memenuhi kewajibannya, sekuritas memiliki hak untuk melakukan forced sell atas saham nasabah yang dibeli dengan dana pinjaman.

Tujuannya adalah agar sekuritas bisa menutupi kewajiban nasabah yang tidak bisa dipenuhi.

Nah, mengingat IHSG telah mengalami tren penurunan (bearish) selama dua pekan, seperti dikatakan Edwin, sangat mungkin koreksi tajam IHSG pagi ini diakibatkan oleh forced sell.

sumber detik finance

Sektor Keuangan AS Harus Tanggung Jawab

WASHINGTON - Rancangan undang-undang yang dikeluarkan Departemen Keuangan dan Parlemen AS mengharuskan perusahaan keuangan membayar "kegagalan atau penyelamatan" kepada pemerintah.

"Komite Jasa Keuangan dan Pemerintahan Obama berkomitmen untuk memastikan bahwa para 'pembayar pajak' tidak pernah lagi dipanggil untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan bisnis Wall Street," ungkap Komite Jasa Keuangan dan Departemen Keuangan AS dalam pernyataan bersama.

Kedua institusi ini menjelaskan, RUU ini bertujuan mengatasi risiko sistemik di sektor keuangan, mengurangi jumlah lembaga keuangan yang gagal atau bangkrut, mengakhiri kebijakan bailout institusi keuangan yang "terlalu besar untuk gagal" karena telah merugikan keuangan pemerintah (pendapatan pajak).

"RUU Peningkatan Stabilitas Keuangan ini bertujuan memastikan industri dan pemegang saham bertanggung jawab atas risiko dan biaya kegagalan, bukan dari pembayar pajak (menggunakan uang negara)," ungkap mereka. RUU ini akan menjadi landasan Presiden Barack Obama untuk melaksanakan komitmen reformasi regulasi keuangan dan penggunaan uang rakyat untuk bailout bagi bank dan perusahaan keuangan lainnya.

Dalam sebuah surat kepada Ketua Komite Jasa Keuangan Parlemen Barney Frank,Obama mengucapkan selamat kepada panel atas kemajuan "rancangan paket reformasi keuangan." Draf RUU berisi 253 halaman rancangan undang-undang federal. Dalam RUU tersebut, institusi keuangan diwajibkan menyisihkan dana atau aset senilai USD100 miliar untuk menghadapi kegagalan atau misi menyelamatkan perusahaan.

Dana ini tidak boleh digunakan untuk operasional perusahaan. "Biaya penyelesaian pada perusahaan yang gagal akan dibayar terlebih dahulu dengan aset perusahaan tersebut. Ini akan merugikan pemegang saham dan kreditor. Aset ini akan mengompensasi penurunan penilaian pada semua perusahaan keuangan," ujar mereka.

"Kami mengikuti model 'penghasil polusi yang membayar'. Jadi industri keuangan harus membayar kesalahan mereka,bukan negara," imbuhnya. RUU juga mengamanatkan pembentukan sebuah dewan antarlembaga yang bertugas memantau dan mengawasi stabilitas sistem keuangan. Dewan akan melaporkan setiap ada ancaman pada sistem keuangan.Berikutnya peningkatan otoritas Bank Sentral AS (Fed) dan lembaga keuangan federal atas kontrol stabilitas keuangan sehingga dapat segera menangani masalah yang timbul.

Aturan lain, kewajiban lembaga keuangan menjadi anggota Lembaga Penjamin Simpanan (FDIC). Ini salah satu antisipasi kerugian pemerintah jika ada institusi keuangan yang gagal. Obama memuji kerja Departemen Keuangan dan Komite Jasa Keuangan Parlemen AS yang bertindak cepat dalam melindungi konsumen dari pinjaman yang tidak adil dan praktik-praktik penipuan di Wall Street.

Pasar derivatif akan diperketat dan menuntut bank untuk mengubah kebijakan kompensasi besar kepada eksekutifnya. Obama mengakui, upaya reformasi aturan keuangan membutuhkan kerja keras. Ini dibutuhkan untuk membangun sistem keuangan yang lebih stabil dan mengamankan ekonomi AS dari krisis di masa mendatang.

Kepercayaan Konsumen Turun

Tingkat kepercayaan konsumen di Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan tajam di luar perkiraan pada periode Oktober akibat lemahnya gambaran perekonomian yang mendorong konsumsi rumah tangga. Indeks kepercayaan konsumen AS yang dirilis Conference Board anjlok ke level 47,7 dibanding pada September yang mencapai indeks 53,4.

Angka tersebut lebih rendah dibanding ramalan sejumlah analis yang memperkirakan penurunan tipis ke level 53,1 poin. Pada survei yang dilakukan terhadap 5.000 rumah tangga di AS itu juga terungkap indikator perekonomian lainnya yakni indeks situasi saat ini turun menjadi 20,7 dari semula 23 pada September. Sedangkan harapan konsumen melemah dari 73,7 pada September lalu menjadi 65,7 pada bulan ini.

Direktur Conference Board Consumer Research Center Lyn Franco menyatakan, penilaian konsumen terhadap kondisi saat ini telah berkembang kurang menguntungkan dengan melihat pasar tenaga kerja yang menjadi kunci utama dalam penelitian.

"Indeks situasi saat ini merupakan yang terendah dalam 26 tahun. Secara jangka pendek telah muncul pandangan negatif dengan proporsi yang lebih besar. Konsumen cukup pesimistis tentang masa depan penghasilan mereka yang menyebabkan sentimen terbatasnya pengeluaran selama liburan," kata dia.

Awal bulan ini pemerintah mengumumkan tingkat pengangguran di AS meningkat 9,8 persen pada September, tertinggi sejak 26 tahun terakhir.

Seperti diketahui, belanja konsumen berkontribusi terhadap 70 persen kegiatan ekonomi di AS sehingga minimnya belanja konsumen bisa berdampak serius terhadap perekonomian negara adidaya itu. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Timothy Geithner pada Selasa (27/10/2009) lalu mengatakan bahwa terdapat alasan kuat untuk memperluas banyak program pemerintah yang diarahkan pada upaya peningkatan ekonomi AS dari resesi.

"Saat ini Kongres melihat berbagai pilihan apakah kita harus memperluas tunjangan pengangguran dan target program-program ekonomi lainnya,"ujar Geithne

Sumber : okzone

Dolar Terus Menguat, Minyak Ambles ke USD77

NEW YORK - Harga minyak minyak terus mengalami koreksi, pada perdagangan Kamis (28/10/2009) waktu setempat, seiring dengan penguatan nilai tukar dolar Amerika serta proyeksi data perekonomian Amerika Serikat (AS).

Seperti dilansir dari Assosiated Press, Kamis (29/10/2009) harga kontrak minyak melemah USD2,09 menjadi USD77,46 per barel pada perdagangan New York Mercantile Exchange (Nymex). Sedangkan di London, harga minyak jenis Brent terkoreksi 72 sen dolar Amerika ke posisi USD77,2 pada ICE Futures.

Penguatan nilai tukar dolar Amerika telah menekan harga komoditas, hal tersebut juga berdampak pada saham-saham di sektor energi. Penurunan cadangan minyak AS rupanya tidak memberi sentimen yang cukup kuat bagi harga minyak. Pekan lalu, cadangan minyak turun 3,5 juta barel, sementara proyeksi analis naik 900 ribu.

Sebelumnya, bursa Wall Street terus mengalami koreksi seiring data Departemen Perdagangan tentang penurunan penjualan rumah baru untuk pertama kalinya dalam lima bulan. Penjualan turun 3,6 persen pada September menjadi 402 ribu

sumber okezone

MOVES-Morgan Stanley hires Australia Merrill team-source

SYDNEY, Oct 29 (Reuters) - Morgan Stanley's Australian unit has poached a four-member team from rival Bank of America/Merrill Lynch to start coverage of small-cap Australian firms, a source briefed on the matter told Reuters on Thursday.

The team, consisting of Chris Nichol, David Evans, Michael Carmody and Shanaz Cassim, would join Morgan Stanley's institutional equities desk in Sydney, the source added.

Both Morgan Stanley and Bank of America/Merrill Lynch declined to comment.

The source declined to be identified as the changes have not been made public yet. (Reporting by Denny Thomas)


By reuters

PRESS DIGEST - Hong Kong - Oct 29

HONG KONG, Oct 29 (Reuters) - These are some of the leading stories in Hong Kong newspapers on Thursday. Reuters has not verified these stories and does not vouch for their accuracy. SOUTH CHINA MORNING POST

-- Bank of East Asia (0023.HK) received more than US$3 billion worth of orders for its hybrid securities, combining a 10-year note issued by the bank and preference shares issued by one of its subsidiary, and the securities are expected to be priced on Thursday, a banker familiar with the issue said.

-- Consumer confidence in Hong Kong rose the most in the world in the third quarter with a strong rebound in optimism about job prospects, household income and spending, according to a global survey by media firm The Nielsen Company. It was followed by South Korea.

HONG KONG ECONOMIC JOURNAL

-- The retail portion of the initial public offering of Evergrande Real Estate (3333.HK) earmarked for retail investors has been 46 times oversubscribed, sources said.

HONG KONG ECONOMIC TIMES

-- Air China (0753.HK) (601111.SS) will adjust its fleet and passenger capacity to capture business opportunities at the Shanghai World Expo, and expects the Shanghai terminal, a joint venture with Cathay Pacific Airways (0293.HK), to be established by the spring of 2010, said chairman Kong Dong.

MING PAO

-- Double A, a paper products and stationery manufacturing unit of Thailand's Advance Agro [ADVAG.UL], is eyeing a listing in Hong Kong, according to sources. Double A distributes its products in Southeast Asia and Europe.

APPLE DAILY

-- Bank of Communications (3328.HK) (601328.SS) may need to strengthen its capital base through multi-channel fund-raising exercises if its core capital adequacy ratio falls below 8 percent, analysts cited the bank's management as saying after a teleconference.

WEN WEI PO

-- Construction of a bridge linking Hong Kong, Macau and Zhuhai will kick off in phases in December after China's State Council gave the green light on a feasibility study of the project, said a Hong Kong government spokesman. The bridge is scheduled to be completed by 2015 or 2016.

For Chinese newspapers, see...............[PRESS/CN]

For Taiwan newspapers, see............[PRESS/TW]


By Reuters.com

New home sales drop, durable goods orders up

WASHINGTON (Reuters) - Sales of new U.S. homes unexpectedly tumbled in September, their first drop in six months, underscoring the hazards to an economic recovery even as businesses appeared to be stepping up investment.

New single-family home sales fell 3.6 percent to a 402,000 unit annual pace from a downwardly revised 417,000 units in August, the Commerce Department said on Wednesday. Analysts polled by Reuters had expected sales to rise to a 440,000 unit pace.

A separate report from the Mortgage Bankers Association showed demand for mortgages has fallen for the past three weeks as buyers move to the sidelines ahead of the November 30 expiration of a popular home-buyers' tax credit.

"One month is obviously not a trend and I think there is plenty of evidence that things are turning around. I still believe the economy has hit bottom and is on the way up, but it will be a long, slow process," said Mark Bonhard, an investment advisor at Dawson Wealth Management in Cleveland, Ohio.

The housing data represented a road bump in a recovery that otherwise appears to be widening. Another Commerce Department report showed that new orders for long-lasting U.S. manufactured goods rose 1 percent in September as businesses stepped-up investment plans.

U.S. stock indexes extended losses on the housing data, while prices for government debt added to gains and the U.S. dollar rose against the euro. At midday, the Standard & Poor's 500 index was down more than 1 percent, on track for a fourth straight daily loss on worries about the outlook.

At meeting next week, Federal Reserve officials will sift through the data to try to determine when they should begin to withdraw their extraordinary support for the economy. With some lingering concern over the outlook, officials look set to take a go-slow approach.

Despite the drop in home sales, the number of new homes for sale at the end of the month hit the lowest level in 27 years. At September's sales pace that left the supply of homes available at 7.5 months' worth, the same as in August. The median sales price rose to $204,800 from $199,900.

The data came as a disappointment after a report last week showed sales of previously owned home jumped to a two-year high, spurred by the $8,000 tax credit for new buyers.

Analysts said the scheduled expiration of the tax credit is now dampening activity as eligible borrowers would not be able to close their loans by then.

DURABLES GOODS ORDERS UP

The data on durable goods orders, however, provided an economic bright spot.

The rise, which matched Wall Street's expectations, was the second increase in the last three months, showing demand for these big-ticket items meant to last three years or more was picking up.

Durable goods orders are a leading indicator of manufacturing, which in turn provides a good measure of overall business health.

"In a recovering economy, you'll get three steps forward and then two steps back. That's what you're seeing here," said David Katz, chief investment officer at Matrix Asset Advisors in New York. "This data point is positive."

The report showed orders for nondefense capital goods excluding aircraft, a closely watched proxy for investment spending, rose a solid 2 percent in September, suggesting businesses were growing increasingly confident the economy's recovery would be sustained.

Still, overall durable goods orders were down 24.1 percent from their year-ago level.

"There is still a good bit of uncertainty on the part of business executives about the economic outlook and as a result we are seeing cautious behavior," said Michael Moran, chief economist at Daiwa Securities America in New York.

Shipments of durable goods rose 0.8 percent in September and have been up for three of the last four months, while inventories fell 1 percent, the ninth straight monthly There are concerns that the continued paring of inventories will be a drag on economic growth. The Commerce Department will report third-quarter gross domestic product on Thursday, and analysts are expecting the economy grew at a 3.3 percent annual pace, based on rebounds in consumer spending and the housing market.

Goldman Sachs on Wednesday cut its forecast for third quarter GDP growth to 2.7 percent from 3 percent, in part because capital goods shipments were weaker than they had expected.

By Reuters.com

Wall Street Makin Terpuruk

Saham-saham di bursa Wall Street belum juga membaik, bahkan mencatat penurunan terbesar sepanjang bulan ini. Kekhawatiran seputar tingkat pemulihan ekonomi dan penurunan penjualan rumah yang tidak diharapkan terus menggerus harga saham-saham.

Saham sektor finansial, teknologi, material dan industri yang sempat menjadi pendorong utama sejak Maret lalu akhirnya melorot karena investor kembali melakukan penilaian ulang.

"Data penjualan rumah secara jelas menciptakan tambahan penarikan turun di pasar. Banyak orang menyadari bahwa kami dalam koreksi sekarang dan harus hati-hati," uar Mike O'Rourke, kepala analis BTIG di New York seperti dikutip dari Reuters, Kamis (29/10/2009).

Pada perdagangan Rabu (28/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DIA) ditutup merosot 119,48 poin (1,21%) ke level 9.762,69. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 20,78 poin (1,95%) ke level 1.042,63 dan Nasdaq merosot 56,48 poin (2,67%) ke level 2.059,61.

Penurunan harga saham-saham teradi setelah Depertemen Perdagangan AS merilis angka penjualan rumah baru turun secara musiman yang disesuaikan per tahunan sebesar 3,6% menjadi 402.000 pada September, dibandingkan angka pada Agustus yang mencapai 417.000. Angka tersebut jauh dari ekspektasi analis sebesar 440.000.

Diantara saham-saham finansial yang turun adalah JPMorgan turun 2,8%, American Express Co turun 3,6%, dengan indeks S&P Finansial turun 3,2%.

Volume perdagangan cukup besar, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 1,68 miliar, di atas rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai 2,75 miliar, di atas rata-rata tahun lalu sebanyak 2,28 miliar.

Sumber detik finance

IHSG Masih Terus 'Batuk-batuk'

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin terpuruk dan tercatat sebagai salah satu yang terburuk di bursa regional. Kapitalisasi bursa susut tajam di tengah bursa-bursa regional yang juga sedang merosot.

Pada perdagangan Rabu (28/10/2009) sesi I, IHSG merosot hingga 64,582 poin (2,66%) ke level 2.360,619. Indeks LQ 45 juga melemah 13,444 poin (2,82%) ke level 462,589. Pelemahan IHSG terjadi beriringan dengan bursa-bursa regional.

Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany mengatakan, pelemahan IHSG terjadi akibat akumulasi berbagai sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri.

"Perkembangan dunia karena pengaruh global, kombinasi perkembangan global dan aksi profit taking, jadi campur-campurlah dan yang namanya market memang begitu. Waktu itu naiknya cepat, pasti ada turunnya," jelasnya.

Hal senada disampaikan ekonom BII, Samuel Ringoringo. Menurutnya, koreksi yang terjadi saat ini tidak perlu dikhawatirkan karena memang terjadi bersamaan dengan bursa regional lainnya.

"Ini adalah koreksi yang cukup dalam. Tapi jangan khawatir, dimana-mana investor perlu merealisasikan profit, apalagi mereka yang memakai marin dan terkena forced sell. Jadi lengkap lah sudah koreksi kali ini," ujar Samuel dalam penjelasannya kepada detikFinance.

Sentimen negatif dari bursa-bursa global belum terhenti mengingat Wall Street tadi malam kembali merosot tajam. IHSG pada perdagangan Kamis (29/10/2009) diprediksi masih akan bergerak lemah lunglai.

Pada perdagangan Rabu (28/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DIA) ditutup merosot 119,48 poin (1,21%) ke level 9.762,69. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 20,78 poin (1,95%) ke level 1.042,63 dan Nasdaq merosot 56,48 poin (2,67%) ke level 2.059,61.

Bursa Jepang juga mengawali perdagangan Kamis (29/10/2009) ini dengan merosot tajam. Indeks Nikkei-225 dibuka langsung merosot 200,45 poin (1,99%) ke level 9.874,60.

Samuel menyarankan investor untuk 'istirahat' sejenak dalam kondisi pasar regional yang kembali 'batuk-batuk' ini. Namun ia melihat peluang IHSG untuk menjadi yang terbaik hingga akhir tahun masih terbuka lebar.

"Saat ini pull back dulu, jujur saya melihat IHSG paling cuma mentok di 2.600 tahun ini, tapi tetap masih menjanjikan return yang terbaik diantara beberapa pilihan hingga akhir tahun," pungkasnya.



Sumber detik finance

Pengikut