Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah, didorong sentimen rebound-nya dolar di pasar global. Namun rupiah diyakini masih terus akan berada dalam tren menguat.
Pada perdagangan Rabu (18/11/2009), rupiah dibuka kembali melemah ke level 9.440 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.400 per dolar AS.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono mengatakan, dari dalam negeri secara umum tidak ada yang berubah sehingga tidak akan terlalu menggoyahkan rupiah. Namun justru dolar AS kini masih berada dalam tren melemah.
"Secara keseluruhan pelemahan dolar masih berlangsung," ujarnya di Gedung DPR-RI, Jakarta, Selasa (17/11/2009) kemarin.
Hartadi menambahkan, yang perlu diwaspadai kini fluktuasi nilai tukar rupiah. BI kini sebisa mungkin meminimalkan dampak fluktuasi bagi nilai tukar.
"Di dealing room devisa, kasarnya, kalau ada devisa masuk ke perbankan, itu BI yang beli dolarnya agar tidak terlalu berlebihan," ujar Hartadi.
Tapi sebaliknya, BI juga akan tetap menjaga agar tidak terlalu banyak devisa yang keluar dari negara kita.
Pelemahan dolar AS sendiri, lanjut Hartadi, kini sudah mulai dikhawatirkan oleh negara-negara Asia. Penguatan nilai tukar negara yang berbasis ekspor seperti Korea dan Jepang akan mengakibatkan kinerja ekspornya terganggu. Menkeu AS sendiri telah mengakui adanya kekhawatiran tersebut.
"Salah satunya adalah statement Timothy Gartner, Menkeu AS ada concern negara-negara diluar ada pelemahan dolar,"paparnya.
Di pasar global, kemarin dolar AS mencatat rebound setelah terus menerus tertekan. Dolar AS menguat setelah Gubernur Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet mengungkapkan komitmennya untuk penguatan dolar.
Euro tercatat melemah ke 1,4873 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4972 dolar. Dolar AS juga menguat atas yen ke 89,25 yen, dibandingkan sebelumnya di 89,05 yen.
sumber detik finance
Tidak ada komentar:
Posting Komentar