ANM World Wide

ANM World Wide
Earth

Sabtu, 31 Oktober 2009

Antam Luncurkan Produk Investasi Cincin Emas Murni

Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (Antam) meluncurkan produk investasi emas murni (999,9) dalam bentuk perhiasan cincin. Produk ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi emas.

"Antam berharap poduk ini dapat meningkatkan daya tarik terhadap investasi emas dan menjadi pilihan bagi masyarakat dalam melakukan investasi, khususnya investasi emas murni," ujar Sekretaris Perusahaan Antam Bimo Budi Satriyo dalam siaran pers yang diterima detikFinance , Sabtu (31/10/2009).

Peluncuran produk ini dilakukan bertepatan dengan penyelenggaraan acara "Surabaya International Jewellery Fair " di Surabaya yang akan berlangsung pada tanggal 30 Oktober sampai 2 November 2009. Pada peluncuran perdananya ini Antam menampilkan 24 desain dari 250 desain yang telah disiapkan. Peluncuran perdana ini mengusung tema "Investasi dan Gaya".

Saat ini, Antam melalui Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia (UBPP LM) telah memproduksi dan melakukan perdagangan emas murni 99,99% dengan sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA).

Semua produk emas yang dihasilkan oleh UBPP LM dijamin keakuratannya, sehingga dapat diperdagangkan di

pasar internasional.


sumber detik finance

Jumat, 30 Oktober 2009

Rupiah Dapat Angin Segar

Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali bergerak menguat setelah kemarin melorot hingga level 9.700-an per dolar AS. Membaiknya PDB AS kembali memicu investor untuk mencari mata uang yang berisiko namun berimbal hasil tinggi.

Pada perdagangan Jumat (30/10/2009), rupiah sudah menguat lagi ke 9.535 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di 9.610 per dolar AS.

Menurut dealer, data PDB AS yang tumbuh 3,5% diperkirakan memicu lagi aksi jual dolar. Mata uang tersebut dalam beberapa hari terakhir telah menguat setelah para investor berbondong-bondong mencari safe haven di tengah pasar finansial yang sedang 'batuk-batuk'.

Pada perdagangan di pasar New York tadi malam, dolar AS sudah bergerak melemah. Euro menguat ke 1,4833 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4714 dolar.

Risk appetite investor kembali meningkat setelah pemerintah AS merilis data PDB tumbuh 3,5% melebihi ekspektasi analis yang hanya 3,2%.

"Data PDB yang lebih baik dari ekspektasi menyebabkan risk appetite melonjak," ujar Michael Woolfolk, analis dari Bank of New York Mellon seperti dikutip dari AFP.

Sumber detik finance

Wall Street Semarak Berkat Data PDB

Jakarta - Saham-saham di Wall Street mengakhiri kemerosotannya berkat data PDB (Product Domestic Bruto) AS, yang melebihi ekspektasi analis. Investor kembali bersemangat karena data PDB itu menunjukkan perekonomian AS sudah keluar dari resesi.

Sesaat sebelum pembukaan perdagangan di Wall Street, pemerintah AS mengumumkan perekonomian AS mengalami pertumbuhan 3,5% pada kuartal III-2009. Angka itu melebihi ekspektasi analis yang hanya 3,2%.

Angka ini juga menunjukkan ekspansi terkuat sejak kuartal III-2007, sekaligur menjadi pertanda AS sudah bisa keluar dari resesi terburuk dalam 70 tahun terakhir.

"Hari ini kita melihat bahwa optimisme seputar laporan keuangan korporasi telah dikonfirmasi oleh data PDB. Kita mulai melihat perekonomian benar-benar pulih dan PDB meningkat," ujar Kenneth Kamen, presiden Mercadien Asset Management seperti dikutip dari Reuters, Jumat (30/10/2009).

Pada perdagangan Kamis (29/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup menguat hingga 199,89 poin (2,05%) ke level 9.962,58. Indeks Standard & Poor's 500 juga melesat 23,48 poin (2,25%) ke level 1.066,11 dan Nasdaq menguat 37,94 poin (1,84%) ke level 2.097,55.

Volume perdagangan cukup moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,46 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai 2,34 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.

Harga Minyak Melonjak

Seiring lonjakan di pasar saham, harga minyak pun ikut melonak lagi. Pemulihan ekonomi di AS yang merupakan konsumen minyak terbesar diharapkan bisa meningkatkan lagi permintaan.

Kontrak utama minyak light sweet pengiriman Desember naik 2,42 dolar menjadi US$ 79,87 per barel. Minyak Brent pengiriman Desember naik 2,18 dolar menjadi US$ 78,04 per barel.

Sumber detik finance

IHSG Siap Melaju Kencang

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sangat bergejolak pada perdagangan kemarin. Sempat merosot hingga 100 poin lebih sebelum akhirnya sedikit mereda pada sesi kedua.

Pada perdagangan Kamis (29/10/2009), IHSG akhirnya hanya ditutup melemah 11,281 poin (0,48%) ke level 2.344,033. IHSG sempat berada di posis terendah di posisi 2.235,387 atau turun 119,297 (5,09%).

Angin segar kembali hadir di lantai bursa. Pertumbuhan PDB AS yang mencapai 3,5% melebihi ekspektasi analis sebesar 3,2% membawa semangat ke lantai bursa. Angka pertumbuhan itu menjadi salah satu pertanda AS sudah mulai keluar dari resesi.

Data itu sebelumnya telah membuat bursa Wall Street cerah ceria. Pada perdagangan Kamis (29/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup menguat hingga 199,89 poin (2,05%) ke level 9.962,58. Indeks Standard & Poor's 500 juga melesat 23,48 poin (2,25%) ke level 1.066,11 dan Nasdaq menguat 37,94 poin (1,84%) ke level 2.097,55.

Bursa Tokyo pun langsung ikut semangat. Indeks Nikkei-225 dibuka melesat 100,32 poin (1,01%) ke level 9.991,42.

Penguatan bursa-bursa utama dunia itu diharapkan membawa angin segar bagi lantai bursa Indonesia yang kemarin sempat terpuruk tajam. IHSG pada perdagangan Jumat (30/10/2009) diprediksi akan bergerak menguat mengikuti bursa regional.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Panin Sekuritas:

IHSG kemarin bergerak fluktuatif, setelah anjlok sekitar -5% pada sesi pembukaan, indeks perlahan mulai menipiskan penurunannya hingga akhirnya ditutup melemah tipis -0,48% di 2.244,033. Tekanan jual yang demikian besar pada sesi pagi kemarin ditenggarai merupakan efek dari forced sell hingga indeks sempat -100 lebih. Sementara untuk hari ini pergerakan IHSG akan dibayangi oleh data makroekonomi AS (angka PDB kuartal 3) yang juga ditunggu oleh investor global. Aksi bargain hunting pada saham yang oversold juga akan mewarnai pergerakan indeks.

Kami perkirakan indeks akan menguji level 2.268, penembusan level tersebut membawa peluang indeks mendekati kembali level 2.300. Sementara untuk support berada di 2.225. Saham pilihan : BBRI, BMRI, BRPT, PGAS.

sumber detik.com

Kamis, 29 Oktober 2009

Panik Jual Mereda, IHSG Cuma Minus 11 Poin

Jakarta - Aksi panik jual di lantai bursa Indonesia mereda pada sesi-sesi akhir menjelang penutupan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun berhasil memperkecil pelemahannya.

Aksi panik jual dan dugaan forced sell sempat memaksa IHSG turun lebih dari 100 poin pada awal perdagangan. Namun memasuki sesi II, aksi jual mereda meski IHSG masih ditutup di teritori negatif.

Rebound saham-saham grup Bakrie dan saham unggulan lainnya membantu IHSG keluar dari jeratan kemerosotan.

Pada perdagangan Kamis (29/10/2009), IHSG akhirnya hanya ditutup melemah 11,281 poin (0,48%) ke level 2.344,033. IHSG sempat berada di posisi terendah di posisi 2.235,387 atau turun 119,297 (5,09%).

Pelemahan IHSG terjadi bersamaan dengan bursa regional yang hari ini juga masih memerah mengikuti kemerosotan Wall Street tadi malam. Indeks Nikkei-225 bahkan untuk pertama kalinya sejak 8 Oktober turun di bawah level 10.000.

  • Indeks Komposit Shanghai tercatat turun 70,86 poin (2,34%) ke level 2.960,47.
  • Indeks Hang Seng merosot 496,59 poin (2,28%) ke level 21.264,99.
  • Indeks Nikkei-225 merosot 183,95 poin (1,83%) ke level 9.891,10.
  • Indeks KOSPI turun 23,86 poin (1,48%) ke level 1.585,85.

"Sesi Wall Street berikutnya menjadi sangat penting. Para pialang menunggu untuk melihat bagaimana pasar AS akan bereaksi terhadap data PDB," uar Yumi Nishimura, analis dari Daiwa Securities SMBC seperti dikutip dari AFP.

Perdagangan berjalan cukup aktif, dengan frekuensi transaksi sebanyak 124.047 kali pada volume 7.278 juta lembar saham senilai Rp 6,299 triliun. Sebanyak 89 saham naik, 109 saham turun dan 58 saham stagnan.

Saham-saham yang masih berkutat di top loser antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.050 menjadi Rp 20.850, United Tractor (UNTR) naik Rp 450 menjadi Rp 14.750, BRI (BBRI) turun Rp 150 menjadi Rp 7.150, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) turun Rp 200 menjadi Rp 10.200, Telkom (TLKM) turun Rp 100 menjadi Rp 8.250.

Sedangkan saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain Bumi Resources (BUMI) naik Rp 75 menjadi Rp 2.475, Astra International (ASII) naik Rp 50 menjadi Rp 32.000, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 50 menjadi Rp 4.575, PTBA naik Rp 50 menjadi Rp 14.800.

Sumber detik finance

Rupiah Melemah, BI Berharap Pelaku Pasar Tidak Panik

Jakarta - Nilai tukar rupiah ikut merosot bersamaan dengan aksi jual hebat di pasar saham. Bank Indonesia berharap pelaku pasar tidak panik dan tetap bertransaksi seperti biasa.

Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono mengatakan, pelemahan rupiah pada hari ini berkaitan dengan jatuhnya harga saham di kawasan Asia akibat tekanan jual dipicu oleh kekhawatiran mulai berbaliknya arah kebijakan moneter di Asia (China, India).

"Hari ini ditambah pula dengan pasar melakukan sell-off saham di US merespons memburuknya indikator US new home sales. Ini berimbas ke Indonesia dengan aksi jual sehingga Rupiah melemah cukup tajam beberapa hari ini," jelas Hartadi kepada detikFinance.

Pada perdagangan Kamis (29/10/2009) siang, rupiah melemah ke 9.715 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.690 per dolar AS. Rupiah terus melemah sepanjang pekan ini akibat trend penguatan kembali dolar AS.

"BI akan terus memonitor perkembangan ini dan masuk pasar bila diperlukan dengan harapan pasar tidak panik dan bertransaksi orderly," tegas Hartadi.

Ia menambahkan, dengan pelemahan rupiah kali ini, BI tidak melihatnya sebagai akhir dari pelemahan dolar AS.

"Prospek ekonomi Indonesia cukup baik sehingga tetap membuka ruang penguatan rupiah," pungkas Hartadi.

Di pasar Asia hari ini, euro tercatat kembali melemah atas dolar AS. Investor masih melepas mata uang yang dinilai lebih berisiko.

Euro melemah hingga 1,4696 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4714 dolar. Namun dolar AS melemah atas yen ke posisi 90,55 yen, dibandingkan sebelumnya di 90,63 yen.

sumber detik finance

Tekanan Jual Mereda, IHSG Terpangkas 2,97%

Jakarta - Tekanan jual yang sempat menggila di awal perdagangan akhirnya mulai surut. Namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terseok-seok melemah tajam hingga penutupan sesi I.

Aksi jual hebat terjadi setelah Wall Street tadi malam merosot dan diikuti oleh bursa-bursa regional. Tak ada saham unggulan yang selamat dari aksi jual.

Pada perdagangan Kamis (29/10/2009) sesi I, IHSG akhirnya ditutup merosot 69,994 poin (2,97%) ke level 2.285,320. Indeks LQ 45 juga melemah 15,469 poin (3,35%) ke level 446,330. IHSG sempat merosot jauh 108,658 poin (4,71%) ke level 2.246,656. Rupiah juga ikut melemah ke 9.715 per dolar AS.

Kemerosotan yang tajam di awal perdagangan ini diduga tidak hanya sekedar kepanikan namun juga adanya aksi jual paksa atau forced sell.

"Sangat patut diduga kalau ini adalah forced sell. Dengan nilai transaksi tipis, namun penurunan sangat tajam, kelihatannya ini memang akibat forced sell," ujar Direktur Utama PT Finan Corpindo Nusa Edwin Sinaga saat dihubungi detikFinance.

Bursa-bursa regional juga merosot tajam mengikuti pelemahan Wall Street tadi malam.
  • Indeks Nikkei-225 melemah 195,68 poin (1,94%) ke level 9.879,37.
  • Indeks Hang Seng merosot 525,7 poin (2,42%) ke level 21.235,88.
  • Indeks Komposit Shanghai melemah 63,81 poin (2,10%) ke level 2.967,52.

Perdagangan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 63.679 kali pada volume 3.718,6 juta lembar saham senilai Rp 3,418 triliun. Sebanyak 17 saham naik, 191 saham turun dan 25 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Astra International (ASII) turun Rp 1.400 menjadi Rp 30.550, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.200 menjadi Rp 20.700, BRI (BBRI) turun Rp 200 menjadi Rp 7.100, PTBA turun Rp 200 menjadi Rp 14.550, BCA (BBCA) turun Rp 200 menjadi Rp 4.400, Telkom (TLKM) turun Rp 200 menjadi Rp 8.150.

Sedangkan saham-saham yang masih mampu mencetak kenaikan harga di top gainer antara lain Bank Himpunan Saudara 1906 (SDRA) naik Rp 5 menjadi Rp 345, Bumi Serpong Damai (BSDE) naik Rp 10 menjadi Rp 690, Sampoerna Agro (SGRO) naik Rp 25 menadi Rp 2.175, Tunas Ridean (TURI) naik Rp 10 menjadi Rp 1.490.

sumber detik finance
मंताप दी कवासन kuningan

Kepanikan Pasar Atau Forced Sell Massal?

Jakarta - Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I hari ini yang sempat menembus 5% ke level 2.235,387 diduga bukan sekedar akibat kepanikan pasar. Aksi jual paksa (forced sell) diduga menjadi penyebab utamanya.

"Sangat patut diduga kalau ini adalah forced sell," ujar Direktur Utama PT Finan Corpindo Nusa Edwin Sinaga saat dihubungi detikFinance, Kamis (29/10/2009).

IHSG jatuh cukup dalam dengan nilai transaksi tipis. Ketika penurunannya mencapai 5% sesaat setelah dibuka, nilai transaksi hanya sebesar Rp 1 triliun.

"Dengan nilai transaksi tipis, namun penurunan sangat tajam, kelihatannya ini memang akibat forced sell," ujarnya.

Transaksi investor asing juga tidak banyak. Penjualan asing hanya sebesar Rp 395,277 miliar, aksi beli asing hanya sebesar Rp 287,709 miliar. Artinya, aksi penjualan masif hari ini diakibatkan oleh aksi jual yang dilakukan oleh investor lokal.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah ini benar-benar keputusan yang memang diambil investor? Menurut Edwin, aksi jual pelaku pasar hampir tidak mungkin menjadi sepanik ini dalam waktu singkat.

"Kalau kepanikan pasar kelihatannya tidak mungkin sesingkat ini. Memang ada sentimen negatif di pasar, itu terlihat dari tipisnya posisi beli. Kelihatannya karena tipisnya posisi beli itu, penurunan menjadi tajam akibat forced sell dalam waktu bersamaan," jelas Edwin.

Kendati demikian, Edwin belum dapat memastikan apakah aksi jual masif dalam waktu singkat dengan volume tipis ini merupakan aksi forced sell. "Kita belum punya datanya, yang punya datanya tentu pihak bursa. Tapi memang patut diduga kalau ini forced sell," ujarnya.

Sementara Direktur Perdagangan Saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Wan Wei Yiong belum berani mengambil kesimpulan adanya aksi forced sell pada perdagangan pagi ini.

"Kita belum melakukan pengecekan, tapi akan kita pantau terus," ujarnya.

Forced sell merupakan hak jual yang dimiliki sekuritas terhadap nasabah-nasabahnya yang melakukan pembelian saham dengan dana pinjaman dari sekuritas. Fasilitas ini memiliki batasan rasio harga saham yang disebut sebagai Margin Call.

Jika batas ini tersentuh akibat penurunan tajam selama beberapa hari, nasabah akan diminta untuk melakukan penambahan dana (top up) terhadap utang-utangnya kepada sekuritas. Jika nasabah tidak bisa memenuhi kewajibannya, sekuritas memiliki hak untuk melakukan forced sell atas saham nasabah yang dibeli dengan dana pinjaman.

Tujuannya adalah agar sekuritas bisa menutupi kewajiban nasabah yang tidak bisa dipenuhi.

Nah, mengingat IHSG telah mengalami tren penurunan (bearish) selama dua pekan, seperti dikatakan Edwin, sangat mungkin koreksi tajam IHSG pagi ini diakibatkan oleh forced sell.

sumber detik finance

Sektor Keuangan AS Harus Tanggung Jawab

WASHINGTON - Rancangan undang-undang yang dikeluarkan Departemen Keuangan dan Parlemen AS mengharuskan perusahaan keuangan membayar "kegagalan atau penyelamatan" kepada pemerintah.

"Komite Jasa Keuangan dan Pemerintahan Obama berkomitmen untuk memastikan bahwa para 'pembayar pajak' tidak pernah lagi dipanggil untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan bisnis Wall Street," ungkap Komite Jasa Keuangan dan Departemen Keuangan AS dalam pernyataan bersama.

Kedua institusi ini menjelaskan, RUU ini bertujuan mengatasi risiko sistemik di sektor keuangan, mengurangi jumlah lembaga keuangan yang gagal atau bangkrut, mengakhiri kebijakan bailout institusi keuangan yang "terlalu besar untuk gagal" karena telah merugikan keuangan pemerintah (pendapatan pajak).

"RUU Peningkatan Stabilitas Keuangan ini bertujuan memastikan industri dan pemegang saham bertanggung jawab atas risiko dan biaya kegagalan, bukan dari pembayar pajak (menggunakan uang negara)," ungkap mereka. RUU ini akan menjadi landasan Presiden Barack Obama untuk melaksanakan komitmen reformasi regulasi keuangan dan penggunaan uang rakyat untuk bailout bagi bank dan perusahaan keuangan lainnya.

Dalam sebuah surat kepada Ketua Komite Jasa Keuangan Parlemen Barney Frank,Obama mengucapkan selamat kepada panel atas kemajuan "rancangan paket reformasi keuangan." Draf RUU berisi 253 halaman rancangan undang-undang federal. Dalam RUU tersebut, institusi keuangan diwajibkan menyisihkan dana atau aset senilai USD100 miliar untuk menghadapi kegagalan atau misi menyelamatkan perusahaan.

Dana ini tidak boleh digunakan untuk operasional perusahaan. "Biaya penyelesaian pada perusahaan yang gagal akan dibayar terlebih dahulu dengan aset perusahaan tersebut. Ini akan merugikan pemegang saham dan kreditor. Aset ini akan mengompensasi penurunan penilaian pada semua perusahaan keuangan," ujar mereka.

"Kami mengikuti model 'penghasil polusi yang membayar'. Jadi industri keuangan harus membayar kesalahan mereka,bukan negara," imbuhnya. RUU juga mengamanatkan pembentukan sebuah dewan antarlembaga yang bertugas memantau dan mengawasi stabilitas sistem keuangan. Dewan akan melaporkan setiap ada ancaman pada sistem keuangan.Berikutnya peningkatan otoritas Bank Sentral AS (Fed) dan lembaga keuangan federal atas kontrol stabilitas keuangan sehingga dapat segera menangani masalah yang timbul.

Aturan lain, kewajiban lembaga keuangan menjadi anggota Lembaga Penjamin Simpanan (FDIC). Ini salah satu antisipasi kerugian pemerintah jika ada institusi keuangan yang gagal. Obama memuji kerja Departemen Keuangan dan Komite Jasa Keuangan Parlemen AS yang bertindak cepat dalam melindungi konsumen dari pinjaman yang tidak adil dan praktik-praktik penipuan di Wall Street.

Pasar derivatif akan diperketat dan menuntut bank untuk mengubah kebijakan kompensasi besar kepada eksekutifnya. Obama mengakui, upaya reformasi aturan keuangan membutuhkan kerja keras. Ini dibutuhkan untuk membangun sistem keuangan yang lebih stabil dan mengamankan ekonomi AS dari krisis di masa mendatang.

Kepercayaan Konsumen Turun

Tingkat kepercayaan konsumen di Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan tajam di luar perkiraan pada periode Oktober akibat lemahnya gambaran perekonomian yang mendorong konsumsi rumah tangga. Indeks kepercayaan konsumen AS yang dirilis Conference Board anjlok ke level 47,7 dibanding pada September yang mencapai indeks 53,4.

Angka tersebut lebih rendah dibanding ramalan sejumlah analis yang memperkirakan penurunan tipis ke level 53,1 poin. Pada survei yang dilakukan terhadap 5.000 rumah tangga di AS itu juga terungkap indikator perekonomian lainnya yakni indeks situasi saat ini turun menjadi 20,7 dari semula 23 pada September. Sedangkan harapan konsumen melemah dari 73,7 pada September lalu menjadi 65,7 pada bulan ini.

Direktur Conference Board Consumer Research Center Lyn Franco menyatakan, penilaian konsumen terhadap kondisi saat ini telah berkembang kurang menguntungkan dengan melihat pasar tenaga kerja yang menjadi kunci utama dalam penelitian.

"Indeks situasi saat ini merupakan yang terendah dalam 26 tahun. Secara jangka pendek telah muncul pandangan negatif dengan proporsi yang lebih besar. Konsumen cukup pesimistis tentang masa depan penghasilan mereka yang menyebabkan sentimen terbatasnya pengeluaran selama liburan," kata dia.

Awal bulan ini pemerintah mengumumkan tingkat pengangguran di AS meningkat 9,8 persen pada September, tertinggi sejak 26 tahun terakhir.

Seperti diketahui, belanja konsumen berkontribusi terhadap 70 persen kegiatan ekonomi di AS sehingga minimnya belanja konsumen bisa berdampak serius terhadap perekonomian negara adidaya itu. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Timothy Geithner pada Selasa (27/10/2009) lalu mengatakan bahwa terdapat alasan kuat untuk memperluas banyak program pemerintah yang diarahkan pada upaya peningkatan ekonomi AS dari resesi.

"Saat ini Kongres melihat berbagai pilihan apakah kita harus memperluas tunjangan pengangguran dan target program-program ekonomi lainnya,"ujar Geithne

Sumber : okzone

Dolar Terus Menguat, Minyak Ambles ke USD77

NEW YORK - Harga minyak minyak terus mengalami koreksi, pada perdagangan Kamis (28/10/2009) waktu setempat, seiring dengan penguatan nilai tukar dolar Amerika serta proyeksi data perekonomian Amerika Serikat (AS).

Seperti dilansir dari Assosiated Press, Kamis (29/10/2009) harga kontrak minyak melemah USD2,09 menjadi USD77,46 per barel pada perdagangan New York Mercantile Exchange (Nymex). Sedangkan di London, harga minyak jenis Brent terkoreksi 72 sen dolar Amerika ke posisi USD77,2 pada ICE Futures.

Penguatan nilai tukar dolar Amerika telah menekan harga komoditas, hal tersebut juga berdampak pada saham-saham di sektor energi. Penurunan cadangan minyak AS rupanya tidak memberi sentimen yang cukup kuat bagi harga minyak. Pekan lalu, cadangan minyak turun 3,5 juta barel, sementara proyeksi analis naik 900 ribu.

Sebelumnya, bursa Wall Street terus mengalami koreksi seiring data Departemen Perdagangan tentang penurunan penjualan rumah baru untuk pertama kalinya dalam lima bulan. Penjualan turun 3,6 persen pada September menjadi 402 ribu

sumber okezone

MOVES-Morgan Stanley hires Australia Merrill team-source

SYDNEY, Oct 29 (Reuters) - Morgan Stanley's Australian unit has poached a four-member team from rival Bank of America/Merrill Lynch to start coverage of small-cap Australian firms, a source briefed on the matter told Reuters on Thursday.

The team, consisting of Chris Nichol, David Evans, Michael Carmody and Shanaz Cassim, would join Morgan Stanley's institutional equities desk in Sydney, the source added.

Both Morgan Stanley and Bank of America/Merrill Lynch declined to comment.

The source declined to be identified as the changes have not been made public yet. (Reporting by Denny Thomas)


By reuters

PRESS DIGEST - Hong Kong - Oct 29

HONG KONG, Oct 29 (Reuters) - These are some of the leading stories in Hong Kong newspapers on Thursday. Reuters has not verified these stories and does not vouch for their accuracy. SOUTH CHINA MORNING POST

-- Bank of East Asia (0023.HK) received more than US$3 billion worth of orders for its hybrid securities, combining a 10-year note issued by the bank and preference shares issued by one of its subsidiary, and the securities are expected to be priced on Thursday, a banker familiar with the issue said.

-- Consumer confidence in Hong Kong rose the most in the world in the third quarter with a strong rebound in optimism about job prospects, household income and spending, according to a global survey by media firm The Nielsen Company. It was followed by South Korea.

HONG KONG ECONOMIC JOURNAL

-- The retail portion of the initial public offering of Evergrande Real Estate (3333.HK) earmarked for retail investors has been 46 times oversubscribed, sources said.

HONG KONG ECONOMIC TIMES

-- Air China (0753.HK) (601111.SS) will adjust its fleet and passenger capacity to capture business opportunities at the Shanghai World Expo, and expects the Shanghai terminal, a joint venture with Cathay Pacific Airways (0293.HK), to be established by the spring of 2010, said chairman Kong Dong.

MING PAO

-- Double A, a paper products and stationery manufacturing unit of Thailand's Advance Agro [ADVAG.UL], is eyeing a listing in Hong Kong, according to sources. Double A distributes its products in Southeast Asia and Europe.

APPLE DAILY

-- Bank of Communications (3328.HK) (601328.SS) may need to strengthen its capital base through multi-channel fund-raising exercises if its core capital adequacy ratio falls below 8 percent, analysts cited the bank's management as saying after a teleconference.

WEN WEI PO

-- Construction of a bridge linking Hong Kong, Macau and Zhuhai will kick off in phases in December after China's State Council gave the green light on a feasibility study of the project, said a Hong Kong government spokesman. The bridge is scheduled to be completed by 2015 or 2016.

For Chinese newspapers, see...............[PRESS/CN]

For Taiwan newspapers, see............[PRESS/TW]


By Reuters.com

New home sales drop, durable goods orders up

WASHINGTON (Reuters) - Sales of new U.S. homes unexpectedly tumbled in September, their first drop in six months, underscoring the hazards to an economic recovery even as businesses appeared to be stepping up investment.

New single-family home sales fell 3.6 percent to a 402,000 unit annual pace from a downwardly revised 417,000 units in August, the Commerce Department said on Wednesday. Analysts polled by Reuters had expected sales to rise to a 440,000 unit pace.

A separate report from the Mortgage Bankers Association showed demand for mortgages has fallen for the past three weeks as buyers move to the sidelines ahead of the November 30 expiration of a popular home-buyers' tax credit.

"One month is obviously not a trend and I think there is plenty of evidence that things are turning around. I still believe the economy has hit bottom and is on the way up, but it will be a long, slow process," said Mark Bonhard, an investment advisor at Dawson Wealth Management in Cleveland, Ohio.

The housing data represented a road bump in a recovery that otherwise appears to be widening. Another Commerce Department report showed that new orders for long-lasting U.S. manufactured goods rose 1 percent in September as businesses stepped-up investment plans.

U.S. stock indexes extended losses on the housing data, while prices for government debt added to gains and the U.S. dollar rose against the euro. At midday, the Standard & Poor's 500 index was down more than 1 percent, on track for a fourth straight daily loss on worries about the outlook.

At meeting next week, Federal Reserve officials will sift through the data to try to determine when they should begin to withdraw their extraordinary support for the economy. With some lingering concern over the outlook, officials look set to take a go-slow approach.

Despite the drop in home sales, the number of new homes for sale at the end of the month hit the lowest level in 27 years. At September's sales pace that left the supply of homes available at 7.5 months' worth, the same as in August. The median sales price rose to $204,800 from $199,900.

The data came as a disappointment after a report last week showed sales of previously owned home jumped to a two-year high, spurred by the $8,000 tax credit for new buyers.

Analysts said the scheduled expiration of the tax credit is now dampening activity as eligible borrowers would not be able to close their loans by then.

DURABLES GOODS ORDERS UP

The data on durable goods orders, however, provided an economic bright spot.

The rise, which matched Wall Street's expectations, was the second increase in the last three months, showing demand for these big-ticket items meant to last three years or more was picking up.

Durable goods orders are a leading indicator of manufacturing, which in turn provides a good measure of overall business health.

"In a recovering economy, you'll get three steps forward and then two steps back. That's what you're seeing here," said David Katz, chief investment officer at Matrix Asset Advisors in New York. "This data point is positive."

The report showed orders for nondefense capital goods excluding aircraft, a closely watched proxy for investment spending, rose a solid 2 percent in September, suggesting businesses were growing increasingly confident the economy's recovery would be sustained.

Still, overall durable goods orders were down 24.1 percent from their year-ago level.

"There is still a good bit of uncertainty on the part of business executives about the economic outlook and as a result we are seeing cautious behavior," said Michael Moran, chief economist at Daiwa Securities America in New York.

Shipments of durable goods rose 0.8 percent in September and have been up for three of the last four months, while inventories fell 1 percent, the ninth straight monthly There are concerns that the continued paring of inventories will be a drag on economic growth. The Commerce Department will report third-quarter gross domestic product on Thursday, and analysts are expecting the economy grew at a 3.3 percent annual pace, based on rebounds in consumer spending and the housing market.

Goldman Sachs on Wednesday cut its forecast for third quarter GDP growth to 2.7 percent from 3 percent, in part because capital goods shipments were weaker than they had expected.

By Reuters.com

Wall Street Makin Terpuruk

Saham-saham di bursa Wall Street belum juga membaik, bahkan mencatat penurunan terbesar sepanjang bulan ini. Kekhawatiran seputar tingkat pemulihan ekonomi dan penurunan penjualan rumah yang tidak diharapkan terus menggerus harga saham-saham.

Saham sektor finansial, teknologi, material dan industri yang sempat menjadi pendorong utama sejak Maret lalu akhirnya melorot karena investor kembali melakukan penilaian ulang.

"Data penjualan rumah secara jelas menciptakan tambahan penarikan turun di pasar. Banyak orang menyadari bahwa kami dalam koreksi sekarang dan harus hati-hati," uar Mike O'Rourke, kepala analis BTIG di New York seperti dikutip dari Reuters, Kamis (29/10/2009).

Pada perdagangan Rabu (28/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DIA) ditutup merosot 119,48 poin (1,21%) ke level 9.762,69. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 20,78 poin (1,95%) ke level 1.042,63 dan Nasdaq merosot 56,48 poin (2,67%) ke level 2.059,61.

Penurunan harga saham-saham teradi setelah Depertemen Perdagangan AS merilis angka penjualan rumah baru turun secara musiman yang disesuaikan per tahunan sebesar 3,6% menjadi 402.000 pada September, dibandingkan angka pada Agustus yang mencapai 417.000. Angka tersebut jauh dari ekspektasi analis sebesar 440.000.

Diantara saham-saham finansial yang turun adalah JPMorgan turun 2,8%, American Express Co turun 3,6%, dengan indeks S&P Finansial turun 3,2%.

Volume perdagangan cukup besar, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 1,68 miliar, di atas rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai 2,75 miliar, di atas rata-rata tahun lalu sebanyak 2,28 miliar.

Sumber detik finance

IHSG Masih Terus 'Batuk-batuk'

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin terpuruk dan tercatat sebagai salah satu yang terburuk di bursa regional. Kapitalisasi bursa susut tajam di tengah bursa-bursa regional yang juga sedang merosot.

Pada perdagangan Rabu (28/10/2009) sesi I, IHSG merosot hingga 64,582 poin (2,66%) ke level 2.360,619. Indeks LQ 45 juga melemah 13,444 poin (2,82%) ke level 462,589. Pelemahan IHSG terjadi beriringan dengan bursa-bursa regional.

Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany mengatakan, pelemahan IHSG terjadi akibat akumulasi berbagai sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri.

"Perkembangan dunia karena pengaruh global, kombinasi perkembangan global dan aksi profit taking, jadi campur-campurlah dan yang namanya market memang begitu. Waktu itu naiknya cepat, pasti ada turunnya," jelasnya.

Hal senada disampaikan ekonom BII, Samuel Ringoringo. Menurutnya, koreksi yang terjadi saat ini tidak perlu dikhawatirkan karena memang terjadi bersamaan dengan bursa regional lainnya.

"Ini adalah koreksi yang cukup dalam. Tapi jangan khawatir, dimana-mana investor perlu merealisasikan profit, apalagi mereka yang memakai marin dan terkena forced sell. Jadi lengkap lah sudah koreksi kali ini," ujar Samuel dalam penjelasannya kepada detikFinance.

Sentimen negatif dari bursa-bursa global belum terhenti mengingat Wall Street tadi malam kembali merosot tajam. IHSG pada perdagangan Kamis (29/10/2009) diprediksi masih akan bergerak lemah lunglai.

Pada perdagangan Rabu (28/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DIA) ditutup merosot 119,48 poin (1,21%) ke level 9.762,69. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 20,78 poin (1,95%) ke level 1.042,63 dan Nasdaq merosot 56,48 poin (2,67%) ke level 2.059,61.

Bursa Jepang juga mengawali perdagangan Kamis (29/10/2009) ini dengan merosot tajam. Indeks Nikkei-225 dibuka langsung merosot 200,45 poin (1,99%) ke level 9.874,60.

Samuel menyarankan investor untuk 'istirahat' sejenak dalam kondisi pasar regional yang kembali 'batuk-batuk' ini. Namun ia melihat peluang IHSG untuk menjadi yang terbaik hingga akhir tahun masih terbuka lebar.

"Saat ini pull back dulu, jujur saya melihat IHSG paling cuma mentok di 2.600 tahun ini, tapi tetap masih menjanjikan return yang terbaik diantara beberapa pilihan hingga akhir tahun," pungkasnya.



Sumber detik finance

Rabu, 28 Oktober 2009

SMS Finance Bidik Pembiayaan Rp 2 Triliun di 2010

Jakarta - PT Sinar Mitra Sepadan Finance (SMS Finance) mematok target pembiayaan kendaraan bermotor pada 2010 sekitar Rp 2 triliun atau sekitar 40.000 unit kendaraan bermotor (mobil).

"Target Pembiayaan Rp 1 triliun yang dicanangkan pada awal tahun sudah tercapai pada September 2009 dimana pembiayaan yang dibukukan sebesar Rp 1,01 triliun. Kami optimis hingga akhir 2009 ini pembiayaan mencapai Rp 1,3 triliun," kata Presiden Direktur SMS Finance Rudyanto Somawihardja dalam siaran persnya, Rabu
(28/10/2009).

SMS Finance membukukan penjualan sebesar Rp 780 miliar pada 2008 dan Rp 295 miliar pada 2007. Melihat prospek dan perkembangan usaha, SMS Finance berkomitmen untuk terus melakukan langkah penguatan fondasi perusahaan termasuk langkah penambahan modal perseroan.

Pada April 2009, modal disetor SMS Finance bertambah menjadi Rp 100 miliar dari Rp 60 miliar pada Januari 2009. Pada awal tahun 2008 modal disetor Perseroan masih sebesar Rp 40 miliar.

"Untuk mengantisipasi laju pertumbuhan kredit SMS Finance pada 2010, kami berencana menambah modal disetor lagi sebesar Rp 50 miliar sehingga modal disetor SMS Finance menjadi Rp 150 miliar pada akhir 2009" ujarnya.

SMS Finance juga terus melakukan ekspansi usaha dengan membuka cabang di daerah lain. Hingga kini, SMS Finance memiliki 61 kantor operasional yang tersebar hingga ke kota-kota kabupaten di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Untuk mendukung pendanaan, SMS Finance bekerja sama dengan pihak perbankan, karena pertumbuhan ekspansi pinjaman SMS Finance sebagian besar dibiayai oleh pinjaman bank melalui kerja sama pembiayaan dalam bentuk channelling dan joint financing. Saat ini, lebih dari 1.500 showroom serta lebih dari 20 bank dan
lembaga keuangan yang bekerja sama dengan SMS Finance.

"Jadi, kami optimistis semua akan tercapai sesuai target dan meski keseluruhan penjualan di industri otomotif menurun tapi pembiayaan kami tetap baik dan tumbuh dengan signifikan" tuturnya.

Menurut Rudy, pemegang saham SMS Finance optimis bahwa Perseroan dapat menjadi perusahaan pembiayaan papan atas yang fokus pada pasar mobil bekas. Dan, rencana masuk ke Bursa Efek Indonesia dapat terealisasi.

Sejak beroperasi Juni 2001, SMS Finance memfokuskan usaha pada pembiayaan kendaraan mobil, khususnya mobil bekas. Sedangkan pembiayaan motor, baru ditangani pada 2009. Akan tetapi pertumbuhannya sangat pesat dengan capaian pembiayaan sebesar Rp 150 - 200 miliar per bulan, kontribusi dari pembiayaan motor mencapai 20% dan terus meningkat.

sumber detik finance

BUMI Makin Tenggelam, IHSG Terseret

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin tenggelam di tengah merahnya bursa-bursa regional. Anjloknya saham PT Bumi Resources Tbk dan grup Bakrie lainnya memberi kontribusi besar bagi penurunan IHSG.

Pada perdagangan Rabu (28/10/2009) pukul 09.50 waktu JATS, IHSG turun hingga 12,341 poin (0,51%) ke level 2.412,860. Indeks LQ 45 juga melemah 2,730 poin (0,57%) ke level 473,303.

Saham BUMI tercatat melemah Rp 100 menjadi Rp 2.450, dengan transaksi terbesar mencapai Rp 234,8 miliar. Saham BUMI terus melemah karena kekhawatiran seputar nasib repurchase agreement (repo) PT Bakrie & Brothers Tbk.

Saham-saham grup Bakrie lainnya yang melemah adalah Bakrieland Development (ELTY) turun Rp 10 menjadi Rp 290, Bakrie & Brothers (BNBR) turun Rp 3 menjadi Rp 100, Energi Mega Persada (ENGR) turun Rp 10 menjadi Rp 275, Darma Henwa (DEWA) turun Rp 6 menadi Rp 170, Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) turun Rp 10 menjadi Rp 760.

Bursa-bursa regional juga mayoritas bergerak melemah.
  • Indeks Hang Seng dibuka melemah 36,77 poin (0,17%) ke level 22.132,82.
  • Indeks Komposit Shanghai naik tipis 5,96 poin (0,20%) ke level 3.027,42.
  • Indeks Nikkei-225 menutup sesi I dengan pelemahan 67,91 poin (0,66%) ke level 10.144,55.

"IHSG sepertinya masih berpeluang untuk melemah pagi ini karena VIX masih naik, dan kali ini diikuti oleh CDS. NKY fut yang lemah serta regional yang belum positif akan memicu profit taking, dan prediksi kami technical rebound akan terjadi ketika menyentuh 2400. Investor akan memperhatikan data 3Q GDP US yang akan keluar Kamis ini dan sangat critical," urai Mastono Ali, Retail Research Analyst PT CIMB Securities Indonesia.

Sumber : detik finance

IHSG Belum Banyak Dorongan

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin merosot tajam mengikuti pelemahan bursa-bursa regional. Saham-saham unggulan berjatuhan di tengah hadirnya emiten baru, PT BW Plantation Tbk (BWPT).

Pada perdagangan Selasa (27/10/2009), IHSG ditutup merosot hingga 42,513 poin (1,72%) ke level 2.425,201. Indeks LQ 45 juga naik 8,950 poin (1,85%) ke level 476,033. Saham-saham unggulan hampir semuanya berjatuhan.

Pelemahan saham-saham unggulan tersebut kini membuka peluang investor untuk melakukan pembelian selektif. Saham-saham unggulan yang sudah murah bisa dikoleksi lagi.

Sayangnya, sentimen negatif datang dari bursa Wall Street yang masih saja lemah lesu. Pada perdagangan Selasa (27/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DIA) ditutup naik tipis 14,21 poin (0,14%) ke level 9.882,17. Nasdaq melemah 25,76 poin (1,20%) ke level 2.116,09 dan Standard & Poor's 500 melemah 3,54 poin (0,33%) ke level 1.062,41.

Bursa Tokyo juga memulai perdagangan Rabu (28/10/2009) dengan pelemahan. Indeks Nikkei-225 dibuka melemah 36,49 poin (0,36%) ke level 10.175,97.

IHSG pada hari ini diprediksi akan bergerak variatif dengan kecenderungan menguat tipis. IHSG diprediksi masih akan melintas-lintas ke teritori negatif dengan volume perdagangan yang tipis.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Panin Sekuritas:


IHSG kemarin turun cukup dalam -1,72% pada level 2.425,201 ditandai oleh aksi jual terhadap saham-saham unggulan oleh investor asing. Keluarnya asing dari bursa sebenarnya sudah terlihat dari perdagangan sepanjang pekan lalu. Minimnya sentimen positif serta kenaikan yang sangat signifikan dalam 6 bulan terakhir membuat investor asing memilih untuk merealisasikan keuntungannya. Sementara hari ini kami melihat indeks berpeluang untuk menguji level psikologis 2.400. Untuk level resistance berada di 2.441. Belum ada sinyal yang mengindikasikan indeks akan mengalami bullish reversal.

sumber detik finance

Wall Street Masih Saja Lesu

Saham-saham di Wall Street masih bergerak lesu dalam perdagangan yang bergejolak setelah keluarnya laporan indeks kepercayaan investor, yang melemah melebihi ekspektasi analis.

Pada perdagangan Selasa (27/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DIA) ditutup naik tipis 14,21 poin (0,14%) ke level 9.882,17. Nasdaq melemah 25,76 poin (1,20%) ke level 2.116,09 dan Standard & Poor's 500 melemah 3,54 poin (0,33%) ke level 1.062,41.

Nasdaq melemah cukup besar karena telah terjadi kenaikan harga saham-saham yang sudah lumayan sebelumnya. Sentimen negatif ditambah dari outlook yang mengecewakan dari Baidu Inc. Saham Baidu tercatat merosot hingga 11,4%.

"Orang ingin mengambil untung. Angka indeks Kepercayaan konsumen tidak bagus," uar Stephen Carl, analis dari Williams Capital LP seperti dikutip dari Reuters, Rabu (28/10/2009).

"Kita telah melihat Dow Jones melewati level 10.000 pada pekan lalu. Beberapa orang merasa pasar bisa saja overvalued," tambahnya.

Saham-saham energi memberi topangan bagi Dow Jones. Kenaikan harga minyak memberi dorongan bagi penguatan saham-saham energi. Saham Exxon Mobil naik 2,3%, Chevron naik 1,5%.

Harga Minyak Naik

Sementara harga minyak mentah kembali naik mendekati US$ 80 per barel menelang keluarnya data cadangan minyak mingguan.

Kontrak utama minyak light sweet pengiriman Desember naik 87 sen menadi US$ 79,55 per barel. Minyak Brent pengiriman Desember juga naik 66 sen menjadi US$ 77,92 per barel.

sumber detik finance

Selasa, 27 Oktober 2009

Rupiah Kembali Merosot

Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali merosot menembus level 9.500 per dolar AS. Investor mulai waspada di tengah posisi dolar AS yang kembali menguat di pasar global.

Pada perdagangan Selasa (27/10/2009), rupiah dibuka merosot ke 9.570 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.490 per dolar AS.

Di pasar global, dolar AS mulai mencatat rebound setelah terpuruk ke posisi terendahnya dalam 14 bulan atas euro. Di tengah pasar finansial yang kembali bergejolak, investor kembali ke dolar yang dianggap safe haven.

Pada perdagangan Senin (26/10/2009) di New York, euro diperdagangkan di 1,4863 dolar, melemah dibandingkan penutupan sebelumnya di level 1,5007 dolar.

Dolar AS juga menguat atas yen ke posisi 92,23 yen, dibandingkan sebelumnya di level 92,07 yen.

"Perekonomian dunia masih sangat rentan meski ada pemulihan lebih lanjut di pasar saham, komoditas dan mata uang dengan yield yang tinggi. Untuk kedepan, saya perkirakan ada pemulihan nilai dolar dan kemungkinan aset yang lebih berisiko akan melemah seperti saham-saham dan mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi," urai Antonio Sousa, kepala analis dari Forex Capital Markets seperti dikutip dari AFP.

(qom/qom)

sumber detik finance

Market Flash eTrading

Jakarta - Dow Jones: Saham US mengalami penurunan dan menghapus rally yang terjadi sebelumnya akibat kekhawatiran para pembuat kebijakan akan mempercepat kredit pajak untuk pembeli rumah dan Bank of America Corp. akan perlu menjual saham untuk membayar dana bailou pemerintah.

Dolar rebound dari level 14 bulan terendahnya terhadap euro dan minyak turut melemah. Saham-saham homebuilders turun setelah para senator berdiskusi untuk mengurangi kredit pajak sebesar $8.000 untuk pembelian pertama kali.

Bank of America turun 5.1% akibat spekulasi pemerintah akan memaksa bank tersebut untuk meningkatkan modal, sementara Fifth Third Bancorp, SunTrust Banks Inc. dan US Bancorp turun sedikitnya 3.2% setelah analis Dick Bove mendowngrade ratingnya. Indeks S&P 500 (-1.2%) 1,066.95 dan Dow Jones (-1.1%) 9,867.96.

Regional Pagi: Bursa Asia melemah di awal perdagangan setelah pelemahan Wall Street, dengan pelemahan saham-saham yang terkait dengan energi yang terpukul oleh anjloknya harga crude oil. Inpex (-1.3%) di Tokyo, SK Energy (-1.3%) di Seoul dan Origin (-2.0%) di Sydney. Westfield (-1.2%), BHP Billiton (-1.4%) dan Fairfax (-2.3%).

Saham-saham Jepang melemah, dipimpin oleh perbankan yang cemas akan melambatnya proses recovery pasca resesi. Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (-1,6%), sebagai refleksi turunnya saham-saham keuangan AS setelah analis Rochdale Securities LLC, Richard Bove mengatakan BofA kemungkinan akan menjual sahamnya untuk mengembalikan bailout pemerintah.

Fast Retailing Co (-1,5%) setelah Credit Suisse Group menurunkan rating perusahaan dari 'netral' menjadi 'underperform'. MUFG down 1.1% Sentimen di Korea Selatan masih dipicu oleh data GDP yang positif. Hyundai Motor (+1,3%) dan LG Electronics (+2,2%). Nikkei 225 (-0.8%) 10,276.02. Topix (-0.8%) 903.48. S&P/ASX 200 (1.0%) 4,779.30. Kospi (-0.7%) 1,645.53 STI (-0.54%) 2,702.03.

Commodity: Crude oil melemah seiring dengan penurunan yang terjadi pada bursa saham akibat kekhawatiran pemerintah akan mempercepat rencana kredit pajak. Pada pertemuan OPEC yang akan dilaksanakan pada Desember mendatang, kemungkinan akan membahas mengenai peningkatan target produksi setelah International Energy Agency memperingatkan kenaikan harga. Crude oil untuk pengiriman Desember diperdagangkan pada level $78.82 per barel. Crude Oil (+0.2%) $78.8/bbl, Gold (+0.23%) $1.041/oz, CPO (-1.1%) $700/MT, Nickel (-1.8%) $18.650/MT, Tin (+0.7%) $15.255/MT.

Economic & Industrial News

Economic: Akuisisi 10% saham Newmont terancam deadlock

Rencana Pemprov Nusa Tenggara Barat melalui PT Multi Daerah Bersaing menuntaskan akuisisi 10% saham PT Newmont Nusa Tenggara pada 30 Oktober 2009 terancam menemui jalan buntu (deadlock) setelah pemda mengajukan 12 syarat tambahan untuk proses akuisisi itu.

Banking : Laba bank Naik 16,5%

Laba yang dibukukan perbankan selama 8 bulan pertama 2009 meningkat signifikan ke angka Rp41,69 T naik 16,5% dari periode yang sama tahun lalu Rp35,78 T. Penopang laba di antaranya pendapatan operasional naik menjadi Rp203,2 T atau tumbuh 26% dibandingkan dengan periode sebelumnya Rp161,2 T. Sumber terbesar pendapatan operasional berasal dari pendapatan bunga Rp157,7 T naik 25,6% dari Rp125,5 T.

Corporate news

PGAS: Hingga 3Q09, Cetak Laba Rp 4,4 Triliun

Hingga 3Q09, PGAS membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 145% menjadi Rp 4,4 triliun dibandingkan dengan periode yangs sama tahun sebelumnya. Kenaikan laba dipicu oleh naiknya pendapatan sebesar 50% menjadi Rp 13,51 triliun.

TLKM : Telkom Cari Utang US$735 Juta

Telkom berencana mencari pendanaan eksternal senilai US$735 juta guna memenuhi belanja modal tahun depan yang diproyeksikan mencapai US$2.1 miliar.

GZCO: Penjualan Naik 24% Hingga 3Q09

Hingga 3Q09, GZCO mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 72,88% menjadi Rp 127,45 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan laba bersih terjadi seiring meningkatnya penjualan sebesar 24,2% menjadi Rp 305,71 miliar.

UNTR: Penjualan Alat Berat Turun 41%

Hingga 3Q09, volume penjualan alat berat UNTR turun 41,48% menjadi 2.237 unit dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan terjadi di 4 divisi yakni agribisnis, konstruksi, kehutanan, dan pertambangan.

JPRS: Penjualan Anjlok 66% per 3Q09

Per 3Q09, JPRS mencatatkan kemerosotan penjualan hingga 66,45% menjadi Rp 216,321 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Akibatnya, perseroan mencetak rugi bersih senilai Rp 7,61 miliar.

BBKP: Right Issue 4,76% Seharga Rp 415 per Saham

PT Bank Bukopin Tbk akan melepas 286,05 juta saham baru melalui right issue ke bursa pada bulan Desember nanti. Jumlah saham baru yang ia jual setara dengan 4,76% saham ditempatkan dan disetor BBKP. Bank Bukopin akan menjual saham baru ini dengan harga Rp 415 per unit saham.

Rumor:

Harga saham TSPC berpotensi menembus levele Rp1.000 dalam jangka pendek dan menengah. Kabarnya perseroan tengah menjajaki rencana go private tahun ini.

Harga saham GPRA berpeluang menguat menuju Rp270 dalam jangka pendek. Kabarnya perseroan tengah mengincar proyek rekonstruksi pemabngunan perumahan di Padang. Selain itu, adanya mitra strategis dari Timur Tengah guna membiayai lima proyek baru akan berdampak positif.
Technical Picks

  • ASII (33,100) - BUY
  • PTBA (15,500) - SELL
  • CTRA (680) - SELL
  • BNBR (110) – SELL.
sumber detik finance

Senin, 26 Oktober 2009

Dana Asing di Saham Masih Tersendat

Jakarta - Investor asing kelihatannya belum melakukan aksi pembelian masif atas saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) meskipun outlook Indonesia telah naik menjadi positif. Transaksi beli asing pada sesi I hari ini hanya Rp 226,479 miliar.

Berdasarkan data perdagangan BEI seperti dikutip detikFinance , Senin (26/10/2009), total nilai pembelian asing di pasar negosiasi sebesar Rp 59,019 miliar, sedangkan di pasar reguler Rp 167,459 miliar pada perdagangan sesi I. Total pembelian asing di seluruh pasar sebesar Rp 226,479 miliar.

Transaksi penjualan asing di pasar negosiasi sebesar Rp 33,401 miliar, sedangkan di pasar reguler Rp 141,826 miliar. Total penjualan asing di seluruh pasar sebesar Rp 175,229 miliar.

Transaksi beli bersih asing (net buying ) hanya sebesar Rp 51,25 miliar. Investor asing sepertinya belum mengambil langkah investasi pada saham-saham di BEI menyusul naiknya outlook dan peringkat utang RI.

Lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) telah menaikkan outlook Indonesia menjadi positif dengan peringkat sovereign utang valas jangka panjang ke BB- dan peringkat utang rupiah ke BB+.

Konsentrasi beli asing hari ini terutama pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 23,168 miliar dilanjutkan dengan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 18,184 miliar, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Rp 15,297 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 15,115 miliar serta PT Alam Sutra Realty Tbk (ASRI) sebesar Rp 13,914 miliar.

Sedangkan konsentrasi jual asing hari ini seperti pada saham-saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 37,479 miliar, PT Semen Gresik Tbk (SMGR) Rp 19,160 miliar, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp 7,476 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 6,986 miliar dan PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp 4,632 miliar.

Nilai pembelian asing pada perdagangan sesi I hari ini tergolong kecil. Apalagi mengingat pada pekan lalu asing telah melakukan aksi jual dan menarik dananya dari BEI sebesar Rp 4,242 triliun dalam 3 hari. Selama periode tersebut, IHSG anjlok 3,48%.

Meskipun ditutup net buying , namun secara umum sebagian besar saham-saham di BEI mengalami penurunan lanjutan. (dro/dnl)

Market Flash eTrading

Jakarta - Dow Jones: Saham US melemah dan menghapus keuntungan yang diperoleh minggu lalu seiring dengan penurunan harga minyak dan turunnya saham industri akibat laporan dari jasa kereta api yang mengecewakan. Dolar menguat terhadap yen seiring dengan spekulasi The Fed akan lebih cepat meningkatkan suku bunga. Exxon Mobil Corp. dan Schlumberger Ltd. memimpin penurunan pada saham energi setelah harga minyak turun untuk hari kedua.

Saham industri di S&P 500 turun 1.7% setelah Burlington Northern Santa Fe Corp. melaporkan laba yang lebih rendah dari prediksi semula. Saham teknologi mencatat penurunan terendah diantara sektor lainnya seiring dengan laba yang diperoleh Microsoft Corp. dan Amazon.com Inc. Indeks S&P 500 (-1.2%) 1,079.6, Dow Jones (-1.1%) 9,972.18 dan Nasdaq (-0.5%) 2,154.47.

Regional Pagi: Nikkei-225 turun setelah anjloknya harga crude oil dan peminjam konsumen Acom Co mencatatkan perolehan laba yang meleset dari estimasi. Toyota Industries Corp memimpin penguatan pada perusahaan otomotif setelah laba yang dibukukan perakit mobil. Mitsubishi Corp (-1,9%), Acom (-3,1%), Toyota Industries (+3%).

Bursa Australia melemah di awal perdagangan seiring melemahnya Wall Street di hari Jumat. Nikkei 225 (-0.1%) 10,274.59, S&P/ASX 200 (-0.7%) 4,823.9, Kospi (+0.4%) 1,646, STI (+1.24%) 2,715.34

Commodity: Crude oil turun untuk hari ketiga setelah kelompok yang memimpin pemberontakan di Nigeria mengumumkan gencatan senjata dan bersedia melakukan pembicaraan untuk menyelesaikan konflik. Kekhawatiran akan pengaruh El Nino terhadap cuaca di bagian utara Hemisphere juga berdampak pada penurunan minyak hingga ke bawah level $80. Crude oil untuk pengiriman Desember -1.1% menjadi $79.6 per barel. Crude Oil (-1.07%) $79.6/bbl, Gold (-0.24%) $1.053/oz, CPO (+1.1%) $708/MT, Coal (-0.1%) $71.7/MT, Nickel (-0.8%) $18.995/MT, Tin (+1%) $15.145/MT.

Economic & Industrial News

Economic: Pembangunan Infrastruktur Jadi Prioritas Program Kerja KIB II

Menko Hatta Rajasa mengatakan pembangunan infrastuktur akan jadi prioritas program kerja KIB II guna menggerakan sektor riil, diikuti oleh pembenahan transportasi, revitalisasi industri, pangan, energi, UKM dan jasa. Pemerintah akan menggenjot pertumbuhan ekonomi 7% bahkan lebih guna meningkatkan angkatan kerja serta menekan pengangguran 9,25 juta orang.

Corporate news

MEDC: Berniat Emisi Obligasi US$300 Jt

MEDC berencana emisi obligasi US$300 juta atau Rp2,82 triliun dan telah mengundang sejumlah underwriter serta mengirimkan quest for proposal kepada sejumlah bank investasi. Disinyalir, perolehan dana guna refinancing utang berjatuh tepmo pada 2010. Perseroan belum mau menjelaskan secara detail rencana tersebut.

TRAM: Indikasikan Laba Bersih 9M09 Melejit 218% yoy

TRAM mengindikasikan laba bersih 9M08 melejit 218% yoy dari Rp36,53 miliar jadi Rp80 miliar yang dikontribusi dari pendapatan kontrak kapal perseroan. Sementara, pendapatannya diprediksi naik 40% yoy jadi Rp443,9 miliar. Saat ini, perseroan tengah menjajaki pinjaman bank untuk capex FY10 yang akan diteken pekan depan.

DGIK: Bidik Proyek Rp500 M

DGIK jajaki tiga proyek pembangunan gedung dan jalan di Sumatera senilai Rp500 miliar. Pemenang tender akan diumumkan sebelum akhir 2009. Perseroan juga tengah negosiasi proyek pembangunan dan desain taman wisata di Timor Leste US$9 juta.

BMRI: Pangkas Bunga Kredit 0,5%

Untuk kelima kalinya, BMRI memangkas bunga kreditnya sebanyak 50 bps yang akan efektif 1 Nov09. Olehkarena itu, total pemangkasan bunga kreditnya sudah mencapai 2,25%.

BBNI: Biayai Transaksi Perdagangan US$ 5,6 Miliar

Hingga September 2009, BBNI telah membiayai transaksi perdagangan internasional sebesar US$ 5,6 miliar. Dan dalam waktu dekat, BBNI juga akan membiayai ekspansi WIKA ke Timur Tengah yang diperkirakan mencapai US$ 5-10 miliar.

EXCL: Tahun Depan, Capex US$ 500 Juta

Pada 2010, EXCL berencana menganggarkan capex sekitar Rp 4,7 triliun (US$ 500 juta), naik dibanding tahun ini yang sebesar US$ 300 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas jaringan seluler.

BMTR: Undur Jadwal Dividen Rp3,5

BMTR mengundur jadwal dividen Rp3,5/saham, yakni jadi : Cum divide: 06 Nov09, Ex dividen: 09 Nov09, Recording date: 11 Nov09, Payment date: 25 Nov09.

BBKP: Terbitkan Rights Issue Rp415

BBKP mengumumkan penerbitan rights issue sebanyak 286.050.768 saham senilai Rp415/saham atau Rp118,7 miliar. Cum right: 4 Des09, Ex right: 7 Des09, Periode perdagangan: 11-17 Des09, Listing date: 11 Des09.

Rumor

Harga saham KIJA berpeluang Rp178-180/saham. Kabarnya investor asal Taiwan tertarik dengan proyek terminal dan medical city perseroan di Cikarang. Sebelumnya, investor Jepang dan HongKong juga dikabarkan minati proyek tersebut.

Harga saham JPFA berpotensi ke Rp1.000-1.200/saham, seiring adanya rencana ekspansi anak usahanya PT Multibreeder Adirama dan kerjasama dengan perusahaan asing. Selain itu, laba bersih FY09 disinyalir melonjak.

Harga saham INTA berpotensi ke Rp1.000/saham, seiring rencana rights issue serta kinerja 9M09 disinyalir cukup memuaskan.

Technical Picks

  • IHSG (2467.948) - BUY
  • BBRI (7600) - BUY
  • BDMN (4800) - BUY
  • ADRO (1620) – BUY.


(etr/qom)

Sumber detik finance

Minggu, 25 Oktober 2009

Menteri Ekonomi Beberkan Program 100 Hari Kerja

JAKARTA, KOMPAS.com — Beberapa menteri bidang perekonomian membeberkan program 100 hari kerjanya.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto akan memprioritaskan untuk merevisi peraturan-peraturan yang selama ini dinilai menghambat pelaksanaan program infrastruktur, seperti masalah pembebasan tanah ataupun soal investasi dalam jalan tol.

"Kami akan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ke arah yang bisa diselesaikan. Ada beberapa peraturan yang perlu diperbaiki, tetapi detailnya nanti," ujarnya di sela rapat koordinasi jajaran Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Sabtu (24/10).

Ini adalah rapat perdana jajaran menteri bidang perekonomian. Rapat dihadiri 13 menteri dan dipimpin langsung oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan akan menerbitkan peraturan-peraturan guna membuka jalan bagi pertumbuhan infrastruktur. Kemudian, sebagai pekerjaan rumah pada satu tahun masa kerjanya, pihaknya akan mengevaluasi beberapa peraturan yang dianggap masih menghambat berlangsungnya proses perizinan serta pertumbuhan sektor industri manufaktur. "Yang ini mau diprogramkan dalam tempo satu tahun," cetusnya.

Adapun Menneg Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarifuddin Hasan siap mengucurkan dana Rp 20 triliun untuk meneruskan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 100 hari kerjanya. Di samping itu, pihaknya juga akan menciptakan lebih banyak tenaga enterpreneur baru dan pelaku bisnis.

Hatta Rajasa menjelaskan, program 100 hari para menteri ini merupakan salah satu kontrak kerja yang dibuat kepada Presiden. Para menteri ini dituntut untuk memenuhi kontrak kerja tersebut. "Tentu kawan-kawan ini (para menteri) sudah memiliki program pada saat menandatangani kontrak kinerja, di situ sudah ada program-program yang harus dicapai, yang sudah di-commit menteri-menteri waktu itu di depan Bapak Presiden," tuturnya.

Pertahanan Keuangan Nasional Rentan Krisis

JAKARTA, KOMPAS.com - Gagalnya penetapan Undang-Undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan akan menjadi kelemahan mendasar dalam sistem pertahanan keuangan nasional.

Demikian disampaikan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Menurut ISEI, kelengkapan perundang-undangan akan menangkal sektor keuangan nasional dari deraan krisis moneter, seperti yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008.

”UU Jaring Pengaman Sistem Keuangan tidak jadi disahkan, padahal itu bagian dari upaya kita menjawab tekanan krisis. UU itu akan mengatur siapa melakukan apa, kapan, dan bagaimana sehingga saat krisis terjadi, semuanya bisa diantisipasi,” ujar Ketua Umum ISEI Darmin Nasution di Jakarta, Kamis (15/10), seusai rapat Pengurus Pusat ISEI.

Darmin, yang juga Penjabat Gubernur Bank Indonesia, menjelaskan, krisis keuangan akhir 2008 bisa diredam karena Indonesia memiliki Lembaga Penjamin Simpanan. Saat krisis tahun 1998, Indonesia belum memiliki Lembaga Penjamin Simpanan sehingga penanganan krisis lemah.

Di sisi lain, Darmin mengingatkan lemahnya industri nasional, terutama dalam memproduksi barang modal dan bahan baku. Setiap ada investasi masuk, nilai impor meningkat karena pasokan barang modal dan bahan baku tidak tersedia di Indonesia.

Sementara itu, dalam Road Map Pembangunan Ekonomi 2010-2014 yang disusun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, diperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010-2014 sebesar 6,3-6,9 persen per tahun.

”Terbukanya ruang bagi pertumbuhan ekonomi itu dipengaruhi prospek pemulihan ekonomi dunia dan membaiknya iklim politik dengan adanya kabinet pemerintahan baru,” ujar Faisal Basri, Tim Ahli Ekonomi Kadin.

Kebutuhan dana investasi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi itu Rp 2.855 triliun-Rp 2.910 triliun per tahun. Namun, dana yang mampu disediakan pemerintah hanya 13 persen dari kebutuhan. Sebanyak 87 persen sisanya harus dihimpun dari swasta domestik, yakni bank, nonbank, dan pasar modal.

Guna meningkatkan sumber pembiayaan dari APBN, ujar Faisal, rasio pajak harus ditingkatkan, dari rata-rata 12 persen dari produk domestik bruto menjadi 15 persen pada tahun 2014.

Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Sandiaga S Uno dalam kunjungan ke sejumlah usaha mikro di Cileungsi, Bogor, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pelaku UMKM harus menjadi target utama.

”Jumlah mereka 51 juta. Tak bisa lagi hanya menggunakan pendekatan kredit perbankan. Mereka harus dibuat naik kelas dari kondisi usahanya,” katanya.(OIN/LKT/OSA)

Penguatan Rupiah Haruskah Dikhawatirkan?

KOMPAS.com — Banyak yang terperanjat melihat kurs rupiah menguat kencang terhadap dollar Amerika Serikat dalam dua minggu terakhir, dari Rp 9.615 (per akhir September) menjadi Rp 9.330 per dollar AS (per 16 Oktober). Sejak awal tahun, apresiasi rupiah telah mencapai 17 persen. Tiga persen terjadi dalam satu bulan terakhir.

Secara garis besar, penyebab penguatan rupiah dapat dikategorikan menjadi dua faktor, yakni eksternal dan internal. Faktor eksternal, penguatan rupiah karena pelemahan dollar AS secara umum. Saat ini dollar AS tidak diminati karena fundamental ekonomi AS sedang buruk.

Dari faktor internal, penguatan rupiah didorong oleh fundamental ekonomi Indonesia saat ini yang ”relatif” lebih baik dibandingkan dengan negara maju yang masih resesi.

Sejak awal Maret 2009, investasi dalam dollar AS mulai ditinggalkan investor akibat kondisi ekonomi AS yang buruk. Untuk stimulus ekonomi, defisit anggaran Pemerintah AS sudah mencapai 12 persen terhadap PDB (jauh di atas posisi aman, yakni 3 persen PDB). Rasio utang Pemerintah AS meningkat drastis ke 94 persen.

Agar ekonominya tumbuh, suku bunga bank sentral AS dipaksa tetap rendah, yaitu hanya 0,25 persen dan imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS juga dipaksa relatif rendah, hanya 3,3 persen. Namun, akibatnya, bagi investor tak menguntungkan memegang dollar AS.

Indonesia telah menunjukkan diri sebagai salah satu negara yang dapat bertahan dalam krisis ekonomi 2008. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan mencapai 4,3 persen dan tahun depan naik ke sekitar 5,5 persen.

Inflasi pada tahun ini diperkirakan hanya sekitar 4 persen dan tahun depan sedikit meningkat ke 6 persen. Defisit anggaran pemerintah dikelola dengan hati-hati, yaitu 2,5 persen PDB di tahun ini, dan tahun depan diturunkan ke 1,6 persen PDB. Di sisi ekspor, meskipun kinerja menurun, tahun ini neraca berjalan diperkirakan masih surplus 1 persen PDB, dan tahun depan, walaupun impor meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, neraca berjalan diperkirakan masih tetap surplus 0,2 persen PDB.

Performa positif yang ditunjukkan Indonesia di tengah krisis menarik minat investor asing. Lembaga pemeringkat Moody’s telah menaikkan peringkat kredit Indonesia dari Ba3 ke Ba2.

Dengan demikian, tidak mengherankan jika dana asing mengalir deras ke Indonesia dan diperkirakan masih akan berlanjut. Memang dana yang masuk kebanyakan bersifat jangka pendek (hot money), belum dalam bentuk penanaman modal asing langsung.

Investor asing membeli aset finansial seperti saham, Surat Utang Negara (SUN), dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Posisi investor asing di SUN meningkat dari Rp 87,6 triliun (di akhir 2008) menjadi Rp 99,5 triliun pada bulan Oktober. Jumlah SBI yang dibeli oleh asing sudah mencapai Rp 45 triliun.

Implikasi penguatan rupiah

Penguatan rupiah memiliki implikasi terhadap perekonomian. Sisi positif penguatan rupiah dapat dilihat melalui (1) berkurangnya tekanan inflasi, (2) potensi bisa tetap rendahnya suku bunga dalam negeri, dan (3) berkurangnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Adapun potensi implikasi negatif dari rupiah yang terlalu kuat adalah (1) potensi anjloknya daya saing ekspor, dan (2) risiko gejolak kurs jika terjadi pembalikan.

Apresiasi rupiah sebesar 10 persen diperkirakan akan mengurangi tekanan inflasi 0,8 persen. Karena lebih dari 60 persen impor Indonesia adalah bahan baku dan barang modal, maka penguatan rupiah akan membantu mengurangi biaya produksi.

Pengurangan tekanan inflasi akibat penguatan rupiah memberikan peluang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga rendah. Penguatan rupiah juga dapat membantu APBN melalui pengurangan tekanan pembayaran bunga utang luar negeri dan biaya impor bahan bakar minyak. Utang luar negeri pemerintah berjumlah 85 miliar dollar AS. Analisis sensitivitas menunjukkan setiap penguatan Rp 100 akan mengurangi beban defisit APBN sekitar Rp 0,4 triliun.

Beban sektor swasta juga terbantu karena utang luar negeri swasta sudah berjumlah sekitar 62 miliar dollar AS, dengan banyak perusahaan swasta tersebut tidak memiliki pendapatan dollar.

Bagi sektor perbankan, penguatan rupiah juga akan mengurangi potensi kredit bermasalah kredit valuta asing. Kredit valuta asing perbankan saat ini memang tidak besar, sekitar 18 persen dari total kredit perbankan, tetapi tetap perlu dimonitor risikonya.

Sebenarnya rupiah tidak dapat dikatakan overvalued karena mata uang banyak negara juga menguat terhadap dollar AS. Nilai tukar rupiah saat ini (di sekitar Rp 9.300-Rp 9.400) adalah sama dengan periode tahun 2007.

Meski demikian, potensi overvaluasi masih terbuka bagi rupiah. Dengan menggunakan metode real effective exchange rate (REER), rupiah telah bergeser dari kondisi undervalued sebesar 13,5 persen menjadi sedikit overvalued sebesar 3 persen, tetapi belum mencapai situasi yang mencemaskan.

Satu hal kita harus ingat bahwa daya saing jangka panjang Indonesia bukan ditentukan oleh kurs mata uang, tetapi oleh ketersediaan infrastruktur, ketahanan energi, ketahanan pangan, dan kualitas sumber daya manusia.

Apresiasi rupiah dapat dimanfaatkan untuk mengimpor lebih banyak barang modal untuk kebutuhan investasi. Perbaikan infrastruktur dan sektor manufaktur memerlukan alat berat dan mesin yang notabene masih banyak diimpor.

Sektor manufaktur harus dibenahi. Produk pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya berguna bagi masyarakat Indonesia. Perbaikan kualitas infrastruktur dan transportasi akan meningkatkan kelancaran jalur distribusi yang selanjutnya akan membuat harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif.

Yang harus diwaspadai adalah risiko pembalikan arah. Untuk itu, jumlah dana investor asing di SBI saat ini sekitar Rp 45 triliun adalah potensi risiko negatif yang akan selalu kita hadapi seperti yang dialami tahun 2005 dan 2008. Semoga BI mempunyai keberanian mengatur investasi asing di SBI.

Bank India Berniat Membeli Bank di Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2009 | 08:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Minat investor asing mengakuisisi bank di Indonesia masih tinggi. Bank terbesar di India, State Bank of India (SBI), menyatakan sedang mengincar bank di Indonesia yang memiliki aset sekitar 100 juta dollar AS, atau sedikit di bawah Rp 1 triliun.

Harian The Financial Ekspress edisi Kamis (22/10), mengutip seorang pejabat senior di SBI yang menyatakan SBI sudah memiliki empat target akuisisi. Jika rencana akuisisi terlaksana, ini merupakan transaksi pembelian bank Indonesia kedua oleh SBI. Tahun 2006, SBI mengakuisisi 76 persen saham Bank Indomonex yang kini berganti nama menjadi Bank SBI Indonesia.

Eksekutif SBI tersebut mengaku, mereka berencana menggabungkan bank yang akan diakuisisi dengan SBI Indonesia. SBI ingin memanfaatkan peluang pembiayaan perdagangan antara Indonesia dengan India. Nilai impor India dari Indonesia 6,1 miliar dollar AS selama semester I 2009.

SBI Indonesia menargetkan modal mereka sampai akhir tahun nanti mencapai Rp 300 miliar. Tumbuh dua kali lipat dari posisi akhir juli sebesar Rp 150 miliar. Total aset mereka per Agustus 2009 sebesar Rp 933,5 miliar, sedangkan dana pihak ketiganya Rp 752,3 miliar.

Dalam wawancara dengan Mingguan KONTAN, awal Oktober, Rajiv Saran, Presiden Direktur State Bank of India, menyatakan, banknya berencana ekspansi di Indonesia. Mereka ingin membuka kantor cabang dan sub-cabang di beberapa kota di Indonesia.

Pada September lalu, SBI Indonesia membuka sub-cabang di Melawai, Jakarta Selatan, dan Jatinegara, Jakarta Timur. Oktober ini, mereka buka cabang di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan di Buah Batu, Bandung.

“Kami juga rajin menggarap pasar di luar Jawa. Sudah ada satu cabang di Medan, Sumatra Utara. Dalam waktu dekat kami akan membuka cabang di Makassar, Sulawesi Selatan, dan Samarinda, Kalimantan Timur,” katanya.

Tahun ini, manajemen menargetkan membuka 16 cabang. Selain di Indonesia, SBI juga berencana membuka kantor cabang di Malaysia pada Maret 2010 men (Syamsul Ashar/Kontan)

Saham

Jumat, 23 Oktober 2009 | 16:24 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Menjelang libur akhir pekan, saham-saham di Bursa Efek Indonesia melaju mantap di jalur positif. Indeks harga saham gabungan pada Jumat (23/10) sore menguat 1,43 persen.

IHSG ditutup bertambah 34,764 poin pada 2.467,948. Sektor pertambangan dan miscellaneous industry memimpin laju indeks.

Pada perdagangan hari ini, sebanyak 143 saham naik mendominasi dibandingkan 46 saham turun dan 68 saham stagnan. Dengan hijaunya sebagian besar saham, indikator utama BEI lainnya juga mantap di zona hijau. Itu seperti indeks Kompas100 yang meningkat 1,56 persen, kemudian indeks LQ45 naik 1,66 persen, dan Jakarta Islamic Index menguat 1,77 persen.

Adapun nilai perdagangan mencapai Rp 3,971 triliun dari 86.907 kali transaksi dengan volume 4,942 miliar saham

Pertamina Jajaki Bangun SPBU di Australia


Foto: dok detikFinance
Sydney - Setelah berhasil memperkenalkan produk pelumasnya Fastron di pasar Australia. PT Pertamina (Persero) berniat menjajaki pembangunan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di negeri Kangguru tersebut.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal mengatakan saat ini pihaknya akan melakukan feasibility study terkait rencana tersebut. Jika hasil study menunjukan layak secara ekonomis maka pembangunan SPBU Pertamina di Australia, sangat mungkin terlaksana dalam waktu dekat.


“Kita akan lakukan survey, kalau ekonomis maka kita akan buka di sini,” kata Faisal saat ditemui di sela-sela peluncuran OliMart Pertamina di Sydney Sabtu
(24/10/2009).

Dikatakannya, potensi bisnis SPBU di Australia memang terbuka lebar. Terlebih lagi pemerintah Australia sangat liberal dalam mengizinkan pembukaan SPBU. Apalagi saat ini jumlah warga negara Indonesia yang tinggal di Australia mencapai 40.000 orang dan itu dinilai sebagai pasar yang sangat potensial.

“Kita rencanakan buka SPBU dengan memasukan unsur outlet-outlet produk Indonesia
di sini, sambil memperkenalkan produk nasional,” ungkapnya.

Selain perhitungan pasar, pihaknya juga mempertimbangkan aspek pembangunan brand image produknya di Australia, karena itu sangat penting untuk menunjukan kalau perusahaan plat merah Pertamina bukan hanya jago kandang saja.

“Untuk BBM-nya kita beli disini, sedangkan pelumasnya produk kita bawa dari produk kita dan kita buat khusus outlet produk Indonesia,” jelas Faisal.

Ia menyatakan untuk merealisasikan rencana bisnis tersebut, perseroan harus ekstra hati-hati
mengingat pengalaman membangun SPBU di Myanmar pernah dilakukannya beberapa waktu lalu, namun akhirnya ditutup. Di Australia sendiri, Pertamina bakal bersaing ketat dengan pemain SPBU seperti Castrol dan Shell.

“Kita jangan hanya jago kandang, makanya kita akan coba jajaki pembukaan SPBU di sini,” sergahnya.

Ia menjelaskan pembangunan SPBU di Australia tidak sulit, dengan perkiraan investasi per satu buah SPBU untuk bangunan saja hanya Rp 5 miliar, dan lokasi tanah hanya menyewa. Ia mencontohkan salah satu ritel mini market 7-Eleven juga melakukan bisnis SPBU di negeri kangguru tersebut.

Sementara itu, Exclusive Distributor of Pertamina lubricants Managing Director Sukendro Darmanto mengatakan pembukaan SPBU Pertamina di Australia sangat potensial dan baik dalam pengembangan brand image.

“Ini langkah positif disamping bisa membangun image, Pertamina juga bisa berkompetisi di luar. Feasibility study sedang dalam tahap penjajakan,” tambah Sukendro.

(hen/epi)

Sumber : detik finance

Jumat, 23 Oktober 2009

Outlook RI Positif, IHSG Loncat 34 Poin

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan ini dengan penguatan yang cukup signifikan berkat rebound saham-saham unggulan. Kenaikan outlook Indonesia ke positif oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) semakin mengukuhkan penguatan IHSG.

Pada perdagangan Jumat (23/10/2009), IHSG ditutup menguat 34,764 poin (1,43%) ke level 2.467,948. Indeks LQ 45 naik 7,927 poin (1,66%) ke levle 485,097. IHSG sempat bergerak melemah, dengan titik terendah pada 2.429,557.

Perdagangan berjalan cukup moderat, dengan frekuensi di seluruh pasar mencapai 86.907 kali pada volume 4.942 juta lembar saham senilai Rp 3,97 triliun. Sebanyak 143 saham naik, 46 saham turun dan 68 saham stagnan.

Menurut Direktur Utama PT Finan Corpindo Nusa, Edwin Sinaga, kenaikan tajam IHSG hari ini terutama didorong oleh dua faktor yaitu sentimen positif bursa-bursa regional dan naiknya outlook Indonesia menjadi positif dengan peringkat sovereign utang valas jangka panjang ke BB- dan peringkat utang rupiah ke BB+ seperti diumumkan oleh S&P.

"Tentu saja pengaruh naiknay peringkat Indonesia memberikan dorongan kuat IHSG untuk naik, selain naiknya indeks-indeks bursa-bursa regional tentunya," ujarnya saat dihubungi detikFinance, Jumat (23/10/2009).

Kendati demikian, Edwin melihat sentimen positif ini hanya akan bersifat temporer jangka pendek. Menurutnya, faktor fundamental masih diselimuti sentimen negatif.

"Saya kok melihatnya situasi masih nggak enak, meski banyak isu positif. Tapi ada capital outflow, kemudian suku bunga yang kelihatannya tidak mungkin turun serta tren kenaikan harga minyak yang terus berlanjut. Ini akan menjadi sentimen negatif ke depannya," ujar Edwin.

Bursa-bursa regional juga bergerak menguat:
  • Indeks Komposit Shanghai naik 56,44 poin (1,85%) ke level 3.107,85.
  • Indeks KOSPI naik 9,84 poin (0,60%) ke level 1.640,17.
  • Indeks Nikkei-225 naik 15,82 poin (0,15%) ke level 10.282,99.
  • Indeks Hang Seng menguat 379,46 ke level 22589.981.

Saham-saham unggulan berada di jajaran top gainer seperti Astra International (ASII) naik Rp 1.300 menjadi Rp 32.650, PTBA naik Rp 250 menjadi Rp 14.950, United Tractor (UNTR) naik Rp 200 menjadi Rp 15.900, Bank Danamon (BDMN) naik Rp 200 menjadi Rp 4.800, BRI (BBRI) naik Rp 200 menjadi Rp 7.600, Bumi Resources (BUMI) naik Rp 100 menjadi Rp 2.750, Adaro (ADRO) naik Rp 100 menjadi Rp 1.620, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 125 menjadi Rp 4.700.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Indosat (ISAT) turun Rp 50 menjadi Rp 5.500, Lippo Karawaci (LPKR) turun Rp 10 menjadi Rp 650, Bisi Internasional (BISI) turun Rp 40 menjadi Rp 1.800, Delta Dunia Petroindo (DOID) turun Rp 10 menjadi Rp 1.840.

Berita Akurat Terpercaya

Menghadapi Dunia Ekonomi belakangan ini diperlukan informasi yang cepat dan akurat serta cerdas. Maka kami berterima kasih atas dukungan Yang Maha Esa dan temen - temen maka muncullah blog ANM FINCO PARTNERS.

Dengan menggeliatnya pasar ekonomi memacu para ekonom untuk berfikir keras dan dapat mengambil keputusan yang tepat. Demikian juga para pengusaha perbankan. Tidak ketinggalan juga para pengusaha papan atas menengah dan bawahpun siap bersaing dalam menghadapi berbagai badai krisis selama sepuluh tahun belakangan ini. Dengan ini kami ANM FINCO PARTNERS akan membantu dunia ekonomi, perbankan dan pengusaha untuk mendapatkan berita yang cerdas dan akurat.


Selamat Menikmati Fasilitas Yang Kami Berikan. Salam Sukses.

Kritik dan saram kirimkan ke email kami

Rabu, 21 Oktober 2009

IHSG Punya Peluang Rebound

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah di tengah pergerakan bursa-bursa regional yang menguat dan bersamaan dengan pelantikan SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wapres.

Pada perdagangan Selasa (20/10/2009), IHSG akhirnya ditutup melemah hingga 18,708 poin (0,74%) ke level 2.502,216. Indeks LQ 45 juga melemah 4,677 poin (0,94%) ke level 492,432. Di awal perdagangan, IHSG sempat bergerak menguat dan titik tertingginya ada di 2.531,791.

Pelemahan IHSG terjadi karena memang penguatan yang terjadi sebelumnya sudah terlampau tinggi. IHSG memang sudah waktunya mengalami koreksi sehat.

Pelemahan yang sudah terjadi secara terus menerus itu kini memberikan peluang bagi kenaikan IHSG meski dalam kisaran yang terbatas. Pada perdagangan Rabu (21/10/2009), IHSG diprediksi akan bergerak pada kisaran sempit dengan kecenderungan menguat tipis saja.

Saham-saham berbasis komoditas diharapkan bisa menguat lagi seiring melemahnya dolar yang memicu kenaikan harga komoditas. Apalagi kemarin harga minyak mentah dunia sempat menembus level US$ 80 per barel. Pada perdagangan Selasa, kontrak utama minyak light sweet pengiriman November sempat menembus US$ 80,05 er barel, sebelum akhirnya ditutup hanya naik 52 sen ke level US$ 79,09 per barel.

Namun sentimen negatif datang dari bursa-bursa regional dan juga Wall Street yang juga sedang disapa profit taking. Pada perdagangan Selasa (20/10/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) turun 50,71 poin (0,50%) ke level 10.041,48.

Bursa Tokyo juga memulai perdagangan hari ini dengan pelemahan setelah kemarin menguat cukup tajam. Indeks Nikkei-225 dibuka melamah 41,51 poin (0,40%) ke level 10.295,33.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Panin Sekuritas:


IHSG kemarin bergerak melemah -0,74% ditutup pada level 2.502,261. Aksi jual terhadap saham perbankan dan pertambangan menjadi pemicu turunnya indeks. Perdagangan juga relatif lesu dengan transaksi berkisar Rp3,7T. Meski pasar masih minim akan sentimen positif, kami melihat masih ada peluang untuk melakukan pembelian di bawah (buy on weakness) pada saham berbasis komoditas. Merambat naiknya harga minyak dunia yang dipengaruhi oleh siklus naiknya permintaan di musim dingin serta melemahnya dollar, menjadi katalis positif bagi sektor komoditas. Kami perkirakan indeks hari ini akan bergerak pada kisaran support-resistance 2.483-2.521.

Optima Sekuritas:

Penurunan saham BUMI menjadi penekan psikolgis pasar sehingga indeks turun 18 poin ke level 2.502. Ditengah naiknya harga minyak maka semestinya saham berbasis komoditas menjadi primadona namun karena indeks telah naik terlebih dahulu di banding bursa lainnya yang terjadi justru profit taking. IHSG masih bullish sehingga jika koreksi justru memberikan peluang untuk buy on weakness. Level indeks bakal bergerak di antara 2.480-2.520.


(qom/qom)

sumber detik finance

Selasa, 20 Oktober 2009

IHSG Loyo Sambut Pelantikan Presiden

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat, namun selanjutnya berbalik arah ke teritori negatif menyambut pelantikan presiden dan wakil presiden.

Pada perdagangan Selasa (20/10/2009) pukul 10.55 waktu JATS, IHSG tercatat melemah tipis 6,987 poin (0,25%) ke level 2.514,542. IHSG sempat menguat hingga menembus level 2.531,791. Perdagangan berjalan cukup moderat, dan pada pagi ini nilai transaksi sudah mencapai Rp 756 miliar.

"Sentimen positif juga datang dari bursa regional yang pagi ini dibuka menguat. Sentimensentimen tersebut berpeluang mengangkat IHSG hari ini, namun secara teknikal kami masih melihat tingginya potensi profit taking," jelas analisa dari Sucorinvest.

IHSG diperkirakan bergerak dalam kisaran S2: 2489 S1: 2505 R1: 2529 R2: 2538.

Pelemahan IHSG ini terjadi di tengah bursa-bursa regional perkasa setelah Wall Street tadi malam menembus titik tertinggi dalam satu tahun.

  • Indeks Nikkei-225 menutup sesi pagi dengan kenaikan 111,07 poin (1,09%) ke level 10.347,58.
  • Indeks Hang Seng dibuka naik 94,05 poin (0,42%) e level 22.294,51.

Saham-saham perbankan bergerak melemah, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 75 menjadi Rp 4.725, BRI (BBRI) turun Rp 150 menjadi Rp 7.950, BCA (BBCA) turun Rp 25 menjadi Rp 4.775.

Sementara kenaikan saham PT Astra International Tbk (ASII) berhasil menahan laju pelemahan IHSG. Saham ASII tercatat naik Rp 400 menjadi Rp 33.400.

(qom/dro)

sumber detikfinance

Jumat, 16 Oktober 2009

BRI Siapkan Rp 2 Triliun untuk Capex Timah dan Antam

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyiapkan dana Rp 2 triliun untuk pembiayaan capital expenditure (capex) PT Timah dan PT Aneka Tambang (ANTAM).

Demikian dikatakan oleh Direktur Hubungan Kelembagaan BRI, Asmawi Syam usai menghadiri acara Malam Silaturrahmi Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), di Gedung Departemen Keuangan, Jakarta, Kamis malam (15/10/2009).

"Untuk kredit korporasi BRI masih tersisa 3 proyek sampai akhir tahun, PT PLN untuk 10.000 megawatt sebesar Rp 1,1 triliun dan untuk capex Antam dan Timah sebesar kurang lebih Rp 2 triliun jadi sampai akhir tahun portofolio kredit korporasi akan bertambah Rp 3 triliun lagi," ujar Asmawi.

Ia mengatakan outstanding kredit korporasi BRI ditargetkan akan mencapai Rp 30 triliun. "Kredit korporasi tumbuh dengan baik dan kita optimistis sampai akhir tahun akan mencapai Rp 30 triliun," katanya.

Portofolio seluruh kredit BRI pada kuartal II-2009 meningkat 35,78% atau Rp 48,65 triliun, dari Rp 135,96 triliun pada kuartal II-2008 menjadi sebesar Rp 184,60 triliun.

Dengan pertumbuhan kredit tersebut, LDR (Loan to Deposit Ratio ) BRI pada kuartal II-2009 tercatat sebesar 85,33%. Sementara itu rasio kredit bermasalah (NPL) gross pada kuartal II-2009 adalah sebesar 3,70%.

Pertumbuhan kredit BRI disokong oleh pengembangan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) dimana total portofolio kredit UMKM BRI mencapai 81,71% atau sebesar Rp 150,84 triliun dari total pinjaman sebesar Rp 184,60 triliun.

Total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun BRI pada kuartal II-2009 mencapai Rp 216,35 triliun atau meningkat jika dibandingkan DPK kuartal II-2008 yang sebesar Rp 176,53 triliun.

Dengan adanya pencapaian kinerja tersebut total aset BRI meningkat 23,20% dari Rp 216,89 pada kuartal II-2008 menjadi Rp 267,21 pada kuartal II-2009 serta ekuitas BRI juga mengalami peningkatan.

sumber detik finance

Rabu, 14 Oktober 2009

BI Fasilitasi 41 Bank Luncurkan Tabungan Tanpa Biaya Administrasi

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menetapkan tahun 2010 sebagai tahun menabung nasional. BI juga memfasilitasi 41 bank untuk berkomitmen meluncurkan produk tabungan tanpa biaya administrasi dengan nama "TabunganKu".

Demikian dikatakan oleh Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Halim Alamsyah dalam acara penandatanganan komitmen bersama untuk mealuncurkan produk TabunganKu dan peluncuran jargon edukasi "3P" di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (14/10/2009).

"Kita menyadari banyak sekali kebutuhan akan produk tabungan di Indonesia karena banyak juga masyarakat yang belum punya tabungan di bank," ujar Halim.

Dikatakan Halim untuk memenuhi kebutuhan perbankan maka BI memfasilitasi 41 bank-bank umum nasional baik swasta yang bersama-sama berkomitmen untuk meluncurkan produk tabungan tanpa biaya administrasi.

"Produk ini dinamakan tabunganKU dan pada awal tahun 2010 akan dilaunching," tuturnya.

Ia juga menjelaskan, untuk mendukung hari menabung nasional BI juga menetapkan jargon andalan yakni 3 P.

"3 P adalah Pastikan manfaatnya, Pahami risikonya, Perhatikan biayanya," tuturnya.

Halim mengharapkan melalui program-program tersebut maka masyarakat akan tertarik untuk menabung karena begitu banyak manfaat dan dapat menggerakan roda perekonomian.

(dru/qom)

Indonesia Dapat Pinjaman US$ 400 Juta Dari Jepang

akarta - Indonesia mendapatkan pinjaman dari Jepang sebesar US$ 400 juta pada tahun 2009 ini. Pinjaman tersebut dalam rangka program Climate Change (Climate Change Program Loan-CCPL ). Program ini sudah berlangsung sejak tahun 2008 dimana saat itu Indonesia mendapat pinjaman sebesar US$ 300 juta dari Pemerintah Jepang.

Menurut Direktur Pembiayaan dan Hibah Luar Negeri Maurin Sitorus, pinjaman ini merupakan bentuk komitmen Jepang untuk melanjutkan kerjasama antara kedua negara walaupun kedua negara ini akan dan telah memasuki pemerintahan baru.

"Kerja sama secara umum karena memang Jepang punya pemerintahan baru dan kita akan ada pemerintahan baru. Kerja sama itu akan tetap dilanjutkan karena masing-masing negara melihat sangat penting dan strategis, Indonesia juga begitu. Yang selama ini kita kerja sama dengan Jepang adalah pogram loan climate change, 2008 ada US$ 300 juta, 2009 ada US$ 400 juta, dan 2010 akan dilanjutkan sebesar US$ 300 juta," jelas Maurin seusai ikut dalam pertemuan Menteri Luar Negeri Jepang Katsuya Okada dan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani di Departemen Keuangan, Jakarta, Selasa malam (14/10/2009).

Usulan untuk CCPL II ini telah disampaikan kepada Kedubes Jepang melalui surat Dirjen Pekerjaan Umum atas nama Menteri Keuangan tertanggal 7 Oktober 2009.

Berdasarkan informasi dari pihak Japan International Cooperation Agency (JICA), CCPL II direncanakan akan ditandatangani pada bulan November 2009. Pinjaman ini memiliki rata-rata bunga 0,15% dengan masa pembayaran kembali selama 15 tahun dan masa tenggang 5 tahun.

Hingga tanggal 30 September 2009, terdapat 55 proyek yang sedang berjalan, yang dibiayai melalui pinjaman Pemerintah Jepang dengan nilai total pinjaman sebesar 813,374 miliar yen.

Usulan proyek potensial yang dibiayai Pemerintah Jepang pada tahun ini telah disampaikan melalui surat Deputi Pendanaan Pembangunan Bappenas tanggal 20 Agustus 2009 kepada Duta Besar Jepang.

Beberapa proyek potensial tersebut adalah Bandung Intra Urban Toll Road Development dengan pinjaman maksimum sebesar 14,25 juta yen, Regional Solid Waste Management for Maminasata sebesar 3,75 juta yen, Southern Bali Water Supply sebesar 4,75 juta yen.

Pinjaman maksimum untuk proyek Kusan Hydro Electric Power Plant sebesar 9.08 juta yen dan proyek Construction of Java-Sumatera Interconnection 500kV line (HVDC) sebesar 47,50 juta yen.

Maurin menambahkan selain pinjaman akan ada hibah dari Pemerintahan Jepang sebesar 24,468 miliar yen atau US$ 259,461 juta.

Daftar kegiatan hibah luar negeri dari Pemerintah Jepang telah disampaikan Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas tertanggal 28 September 2009. Hibah itu akan digunakan untuk membiayai pengiriman tenaga ahli sebesar 511,035 juta yen, pelatihan sebesar 257,024 juta yen.

Selain itu, Indonesia akan melakukan kerjasama teknik yang membutuhkan dana sebesar 5,602 miliar yen. Technical Cooperation for Development Planning yang menyedot dana sebesar 4,068 miliar yen dan hibah bantuan proyek untuk Japanese Fiscal Year (JFY) 2011 sebesar 14,209 miliar yen.

Usulan hibah tersebut telah disampaikan kepada Duta Besar Jepang melalui surat Dirjen Pengelolaan Utang atas nama Menteri Keuangan tertanggal 9 Oktober 2009.

(nia/dnl)

Sumber detik finance

Senin, 12 Oktober 2009

Singapore Continues Robust Growth in Third Quarter

Singapore's economy continued its robust growth in the third quarter as the base of recovery extended beyond pharmaceuticals into the wider manufacturing and services industries.

CNBC.com

Gross domestic product in the July-September period of the year rose 0.8 percent from a year earlier, compared with a market forecast of 0.25 percent, returning to growth after three
quarters of annual contraction.

The government revised up its 2009 forecast to a contraction between 2.5 to 2 percent from an earlier forecast of a contraction of 4 to 6 percent.

The country kept its loose monetary policy unchanged on Monday, citing uncertainty over the sustainability of the global recovery, although its economy is recovering from its worst recession.


Sumber cnbc

Awal Sesi, IHSG Masih Positif

Senin, 12 Oktober 2009 | 09:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Saham-saham di Bursa Efek Indonesia pada awal perdagangan Senin (12/10) pagi berada di zona hijau meski hanya bergerak tipis.

Pada pukul 09.36 waktu JATS, Indeks Harga Saham Gabungan sesi pertama naik 0,14 persen, atau 3,538 poin, menjadi 2.477,939. Sektor infrastruktur yang bergerak naik 1,24 persen menjadi penopang utama indeks pada awal sesi ini. Adapun perbankan berada di bandul negatif dengan turun 0,50 persen.

Sementara itu, indikator utama BEI lainnya untuk sementara berhasil bertahan di jalur positif, seperti indeks Kompas100 yang naik 0,16 persen, indeks LQ45 meningkat 0,17 persen, dan Jakarta Islamic Index bertambah 0,48 persen.

Sumber kompas.com

Bakrie & Brothers Cetak Rugi Rp 124,7 Miliar

Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengalami kemerosotan kinerja dengan mencetak rugi bersih hingga Rp 124,543 miliar pada semester I-2009. Pada periode yang sama tahun 2008, BNBR masih mampu mencetak laba bersih Rp 590,274 miliar.

Menurut kinerja perseroan yang dipublikasikan Senin (12/10/2009), rugi bersih yang dicetak BNBR itu terutama disebabkan karena munculnya rugi atas penjualan penyertaan saham pada anak perusahaan dan perusahaan asosiasi yang mencapai Rp 375,457 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, pos ini nilainya nol.

Perseroan juga masih menderita rugi atas penjualan aktiva tetap sebesar Rp 1,686 miliar, dibandingkan laba atas penjualan aktiva tetap sebesar Rp 105 juta pada periode sebelumnya.

Pos tersebut menyebabkan perseroan mengalami beban bersih sebesar Rp 118,801 miliar semester I-2009, dibandingkan pendapatan bersih yang dicetak perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 239,396 miliar. Padahal sebenarnya perseroan berhasil menekan beban bunga bersih dari Rp 300,954 miliar menjadi Rp 171,071 miliar.

BNBR secara total juga menderita beban pajak penghasilan yang cukup besar menjadi Rp 283,759 miliar pada semester I-2009, dibandingkan beban pajak penghasilan yang hanya Rp 76,960 miliar pada periode yang sama sebelumnya.

Dengan kinerja BNBR yang rugi ini, maka berarti 7 anak perusahaan grup Bakrie mengalami penurunan kinerja. Nilai perolehan laba 6 perusahaan grup Bakrie minus BNBR sebelumnya tercatat anjlok 29,2% pada semester I-2009. Hal tersebut disebabkan tergerus beban keuangan, pajak dan rugi kurs yang mencapai Rp 1,442 triliun
(qom/dnl)

Sumber detik finance

Laba Bakrie 7 Anjlok 42,18%

Jakarta - Nilai perolehan laba 7 perusahaan grup Bakrie anjlok 42,18% pada semester I-2009. Hal itu disebabkan besarnya beban keuangan, pajak dan rugi kurs yang mencapai Rp 2,271 triliun.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan pendapatan semester I-2009 sebesar US$ 1,534 miliar, naik tipis 2,74% dari semester I-2008 sebesar US$ 1,493 miliar. Laba bersih BUMI sebesar US$ 251,901 juta, turun 16,5% dari US$ 301,799 juta. Penurunan tersebut terutama disebabkan penerimaan beban pajak penghasilan sebesar US$ 87,055 juta.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membukukan pendapatan Rp 701,648 miliar, anjlok 21,14% dari sebelumnya Rp 889,774 miliar. Semester I-2009 ini, ENRG membukukan rugi bersih sebesar Rp 244,688 miliar. Periode yang sama tahun lalu, ENRG masih membukukan laba Rp 77,024 miliar.

Penyebab utama kerugian semester I-2009 adalah beban keuangan yang mencapai Rp 328,926 miliar.

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan pendapatan Rp 1,041 triliun, anjlok 34,11% dari sebelumnya Rp 1,580 triliun. Lab sebesar Rp 135,188 miliar, anjlok tajam 58,58% dari sebelumnya Rp 326,446 miliar. Penurunan disebabkan beban bunga dan keuangan sebesar Rp 111,505 miliar.

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan pendapatan Rp 368,784 miliar, turun 8,9% dari sebelumnya Rp 404,828 miliar. Laba bersih dibukukan sebesar Rp 56,902 miliar, turun 21,16% dari sebelumnya Rp 72,180 miliar. Salah satu penyebab utama penurunan ini adalah kerugian kurs Rp 19,658 miliar.

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membukukan pendapatan US$ 102,871 juta, turun 2,67% dari sebelumnya US$ 105,699 juta. Laba bersih semester I-2009 sebesar US$ 221,274 ribu, turun 93,58% dari sebelumnya US$ 3,452 juta. DEWA menerima beban keuangan sebesar Rp 6,496 miliar.

Pertumbuhan positif hanya diraih oleh PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dengan pendapatan sebesar Rp 1,507 triliun, naik 35,88% dari sebelumnya Rp 1,109 triliun. Laba BTEL sebesar Rp 72,779 miliar, naik 16,722 miliar dari sebelumnya Rp 62,352 miliar.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang merupakan induk 6 perusahaan di atas pun membukukan penurunan kinrerja signifikan. Pendapatan BNBR semester I-2009 sebesar Rp 3,463 triliun, turun 11,77% dari pendapatan semesteri I-2008 sebesar Rp 3,925 triliun. Pada pertengahan tahun ini, BNBR mencatat kerugian sebesar Rp 124,543 miliar. Padahal, di semester I-2008 BNBR masih membukukan laba bersih sebesar Rp 590,274 miliar.

Penurunan kinerja BNBR terutama disebabkan perseroan menerima kerugian atas penjualan penyertaan saham pada anak perusahaan dan perusahaan asosiasi yang mencapai Rp 375,457 miliar, beban bunga yang mencapai Rp 171,071 miliar, serta beban pajak penghasilan bersih yang mencapai Rp 283,759 miliar.

Dengan menggunakan asumsi kurs US$ 1 = Rp 10.000, maka total nilai pendapatan 7 usaha grup Bakrie di atas sebesar Rp 23,449 triliun di semester I-2009. Pada semester I-2008, total pendapatan 7 usaha Bakrie tersebut sebesar Rp 23,894 triliun. Artinya, hanya terjadi penurunan tipis 1,86% pada semester I-2009.

Pada semester I-2009 ini, Bakrie 7 menerima beban keuangan dengan nilai sangat besar mencapai Rp 2,271 triliun. Hal itu menyebabkan perolehan laba bersih Bakrie 7 semester I-2009 hanya sebesar Rp 2,416 triliun. Padahal, pada semester I-2008 laba Bakrie 7 mencapai Rp 4,179 triliun.

Artinya pada semester I-2009 ini, Bakrie 7 mencatat penurunan laba signifikan sebesar 42,18% akibat beban keuangan yang sangat besar.
(dro/qom)


Sumber detik finance

Pengikut