ANM World Wide

ANM World Wide
Earth

Kamis, 22 Januari 2009

Sony Warns of $2.9 Billion Loss, Steps Up Restructuring

Sony warned it would post a record $2.9 billion annual operating loss due to sliding demand and a stronger yen, and unveiled fresh restructuring steps to revive its ailing electronics operations.

The operating loss will be Sony's first in 14 years, underscoring deepening troubles for a company that has fallen behind Apple's [AAPL  82.83    4.63  (+5.92%)   ] iPod in portable music,Nintendo in videogames, and is losing money on flat TVs.

"Sony needs further restructuring, not just cost-cutting but a revamping of its business operations," said Naoki Fujiwara, a fund manager at Shinkin Asset Management.

Sony [SNE  22.58    1.05  (+4.88%)   ] said it now expects an operating loss of 260 billion yen ($2.9 billion) for the year to March, down from an earlier projection for a 200 billion yen profit and far worse than earlier media estimates of a loss of 100 billion yen.

The maker of Bravia LCD TVs and PlayStation game consoles said it would respond by accelerating restructuring, more than doubling a cost-cutting target for the year to March 2010 to 250 billion yen.

Sony said it would end TV production and design operations at one plant in Japan and consolidate those operations into another factory in the country.

It plans to cut headcount by 30 percent in operations related to TV design worldwide.

Other measures include consolidation of resources for batteries and small and mid-size liquid crystal display (LCD) panels, and pay cuts for directors and managers.

It expects restructuring charges to total 170 billion yen through the year to March 2010.

Sony 46" BRAVIA® XBR® series LCD Flat Panel HDTV
Sony 46" BRAVIA® XBR® series LCD Flat Panel HDTV

Last month Sony outlined a restructuring plan that included curbing investment, closing five to six plants and cutting a total of 16,000 regular and contract jobs globally to save 100 billion yen a year in costs.

But Sony's management, led by Chief Executive Howard Stringer, faced criticism from analysts and investors who said more drastic measures were needed to streamline a sprawling empire that includes semiconductors, movies and insurance.

"Sony has to consider ways to lower fixed costs not only for its TV business but for the whole company. It will have to start cutting development costs in addition to production costs," said Nomura Securities senior analyst Eiichi Katayama.

Sony attributed 340 billion yen of the 460 billion yen swing in its operating forecast to its core electronics division, as the slowing global economy depresses demand for its digital cameras, video recorders and flat TVs.

But it has also been hurt by the slide in the Japanese stock market, which sliced into the value of securities held by its financial unit.

Slower sales in its game and movie divisions have also hit its results.

Illustrating the problems Sony faces, Japanese exports plunged 35 percent in December from a year earlier, with electronics sales to China and other parts of Asia among the worst affected as Western orders to Asian assembly plants dry up.

More From CNBC

Jakarta - Memilih perusahaan sekuritas atau perusahaan perantara perdagangan efek alias broker bukan perkara mudah. Apalagi, belakangan ini muncul ket

Jakarta - Memilih perusahaan sekuritas atau perusahaan perantara perdagangan efek alias broker bukan perkara mudah. Apalagi, belakangan ini muncul ketakutan dari investor maupun calon investor lantaran munculnya beberapa masalah keamanan investasi dari beberapa broker.

"Sebetulnya investor maupun calon investor tidak perlu takut. Kasus 2-3 broker jangan digeneralisir bahwa semua broker berpotensi bermasalah," ujar Direktur Perdagagan Fix Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan Bursa Efek Indonesia, Guntur Pasaribu saat dihubungi detikFinance, Selasa (20/1/2009).

Menurut Guntur, masalah beberapa broker tersebut saat ini sedang ditangani intensif oleh BEI maupun Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). BEI bersama Bapepam sedang berupaya mengentaskan masalah ini secepatnya.

"Jadi investor tidak perlu khawatir. Industri ini masih bagus kok. Hanya 2-3 broker saja yang bermasalah. Sisanya yang 100 lebih itu masih bagus kok," ujar Guntur.

Namun bagi investor maupun calon investor yang masih ragu, Guntur memberikan beberapa tips-tips dalam memilih broker untuk berinvestasi di pasar modal.

"Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih broker terutama adalah struktur permodalan broker tersebut. Kedua, manajemen broker. Ketiga, divisi-divisi yang ada di broker tersebut seperti riset dan sebagainya. Terakhir, nilai MKBD broker juga bisa dijadikan acuan memilih broker," papar Guntur.

Kendati demikian, Guntur mengembalikan pada masing-masing investor untuk memilih broker sesuai keinginannya. "Tips-tips tadi bisa digunakan untuk memilih broker. Tapi tentunya, pilihan tetap di tangan investor untuk memilih broker mana yang nyaman bagi mereka," ujar Guntur.

Pengamat pasar modal Dandossi Matram ketika dihubungi detikFinance juga mengungkapkan hal senada dengan Guntur. Dandossi dengan tegas mengatakan bahwa kasus beberapa broker jangan dijadikan acuan untuk menilai broker secara keseluruhan.

"Jangan digeneralisir dong. Broker-broker lainnya masih bagus kok," ujar Dandossi.

Senada dengan Guntur, Dandossi juga menekankan, bahwa struktur permodalan broker
merupakan faktor yag paling harus diperhatikan dalam memiih broker. Kendati tidak secara tersurat, Dandossi mengatakan bahwa di tengah kondisi pasar modal dan krisis keuangan global seperti ini, broker-broker pelat merah boleh dikatakan termasuk dalam kategori broker yang aman secara permodalan.

"Saat ini, mungkin broker-broker pelat merah bisa dikatakan termasuk yang paling aman untuk investasi, karena permodalan mereka kuat karena didukung pemerintah," ujarnya.

Jika mengacu pada nilai MKBD, maka urut-urutannya adalah PT Bahana Securities Rp 387,248 miliar, PT Mandiri Sekuritas Rp 106,439 miliar, PT Danareksa Sekuritas Rp 70,681 miliar dan PT BNI Securities Rp 34,332 miliar.

Tiga perusahaan yang disebut pertama di atas juga menduduki peringkat 5 besar sebagai penjamin emisi obligasi di tahun 2008. Mandiri Sekuritas menduduki peringkat teratas dengan nilai emisi sebesar Rp 7,133 triliun, dilanjutkan oleh Danareksa Sekuritas dengan nilai emisi Rp 1,792 triliun.

PT Indo Premier Securities menduduki peringkat ketiga dengan nilai emisi Rp 1,217 triliun, kemudian dilanjutkan PT CIMB-GK Securities Indonesia dengan nilai emisi Rp 1,050 triliun. Sementara Bahana menduduki peringkat kelima dengan nilai emisi Rp 892 miliar.

Pengikut