ANM World Wide

ANM World Wide
Earth

Rabu, 19 November 2008

BTN Pilih-pilih Nasabah untuk KPR

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (BTN) sampai saat ini masih terus mengucurkan kreditnya terutama KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) yang menjadi bisnis utamanya. Namun BTN mulai selektif memberikan kredit ke masyarakat.

Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan BTN masih terus memberikan kreditnya kepada masyarakat, namun selektif.

"Karena kalau tidak (selektif), maka pada tingkat (bunga) seperti ini akan menimbulkan permasalahan atau NPL, karena itu kita perlambat," jelasnya saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Rabu (19/11/2008).

Iqbal mengatakan saat ini pertumbuhan kredit BTN sudah tinggi yaitu mencapai 36%. "Tingkat ini merupakan pencapaian yang sangat baik, saat ini kita harus kendalikan tingkat kredit tersebut, kalau tidak bisa muncul masalah," katanya.

Kemudian alasan kedua BTN menahan laju pertumbuhan kreditnya adalah karena belum adanya kepastian mengenai situasi ekonomi ke depan di tengah situasi krisis yang terjadi.

"Ketiga, karena saat ini bunga sudah tinggi, maka banyak orang yang sudah tidak mau ambil kredit," imbuhnya.

Walaupun begitu, Iqbal mengatakan saat ini masih ada nasabah yang mengajukan KPR ke BTN, dan kredit sebenarnya masih bisa bertambah karena permintaan masih cukup besar.

"Tapi kita harus selektif agar tidak ada masalah," pungkasnya.



Sebelumnya Ketua Kadin MS Hidayat di sela-sela mengikuti kunjungan bilateral Presiden SBY dengan Presiden Brazil Luiz Inacio Lula Da Silva di Istana Presiden Palacio Planalto, Brasilia, Selasa (18/11/2008) seperti dilaporkan reporter detikcom, Arifin Asydad mengatakan pengucuran KPR dihentikan sementara, karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah.

"Saya mendapat kabar bahwa kredit KPR semua dihentikan, karena ada kesulitan mendapatkan likuiditas di perbankan, sehingga menentukan tingkat suku bunga. Anda tahu deposito sekarang ditawarkan 15% dan lending rate sudah di atas 20%," kata Hidayat.

sumber : http://www.detikfinance.com/read/2008/11/19/165550/1039748/5/btn-pilih-pilih-nasabah-untuk-kpr

Imbauan BI untuk Melepas Dolar Kontraproduktif

karta - Imbauan Bank Indonesia agar masyarakat segera melepas dolarnya merupakan sinyal yang buruk dan kontraproduktif. Karena siang ini para pemilik modal justru meningkatkan perburuan dolar.

Mereka berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk dari nilai rupiah dan sistem penjaminan yang tidak penuh atau blanket guarantee.

"Tidak seharusnya BI selaku bank sentral melontarkan hal itu. Toh sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa pasar uang lokal maupun mancanegara sedang alami kekeringan likuiditas valas, utamanya dolar," kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Bambang Soesatyo, Rabu (19/11/2008).

Bambang mengatakan bisa dipahami maksud imbauan Gubernur BI itu sebagai kerjasama saling menguntungkan. Namun imbauan itu dinilai dikeluarkan pada waktu yang tidak tepat.

"Menguntungkan bagi publik pemilik dolar AS, juga menguntungkan bagi BI karena bisa menambah volume dolar AS di pasar uang. Namun disampaikan pada waktu yang tidak tepat," ujarnya.

Lebih dari itu, diteruskan Bambang, imbauan Gubernur BI Boediono boleh ditafsirkan bahwa pada posisi kurs rupiah-dolar AS sekarang ini yakni Rp 11.000 -12.000 per dolar AS sebagai titik keseimbangannya dalam periode krisis finansial saat ini.

"Artinya, sekarang saatnya bagi publik pemilik dolar AS melakukan profit-taking, karena proses pelemahan rupiah sudah mencapai limitnya. Namun fakta yang ada justru menjelaskan kepada kita pesan yang sampai pada masyarakat bahwa BI mulai panik karena kekeringan valas," pungkasnya.

Pengikut